BORNEONEWS, Palangka Raya - Nilai Tukar Petani atau NTP gabungan di Kalimantan Tengah selama April 2025 tercatat sebesar 134,15, mengalami penurunan 1,01 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini mencerminkan adanya tekanan terhadap daya beli petani di provinsi tersebut, terutama di subsektor pertanian utama.
Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa penurunan NTP ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi harga komoditas pertanian serta peningkatan biaya produksi.
"Petani menghadapi tantangan yang cukup kompleks, sehingga penurunan NTP ini perlu dicermati lebih dalam untuk menentukan langkah-langkah kebijakan ke depan," ujar Agnes dalam penyampaian berita resmi statistik pada Jumat, 2 Mei 2025.
Selain itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian atau NTUP juga mengalami penurunan sebesar 0,91 persen dibandingkan Maret 2025. Dari sebelumnya 140,03, NTUP turun menjadi 138,76. Penurunan ini mengindikasikan adanya penurunan keuntungan yang diperoleh petani dari usaha taninya, yang bisa berimplikasi pada berkurangnya investasi dalam sektor pertanian.
Di sisi lain, Indeks Konsumsi Rumah Tangga atau IKRT di kawasan perdesaan justru mengalami kenaikan sebesar 0,42 persen pada April 2025. Kenaikan IKRT mencerminkan meningkatnya pengeluaran rumah tangga perdesaan, yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kebutuhan pangan, biaya pendidikan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Agnes Widiastuti menambahkan bahwa meski ada penurunan dalam NTP dan NTUP, kenaikan IKRT menunjukkan dinamika ekonomi yang perlu diperhatikan lebih lanjut.
"Kondisi ini perlu dianalisis secara lebih mendalam agar kebijakan yang diterapkan mampu menjaga kesejahteraan petani dan masyarakat perdesaan," katanya.
Pemerintah daerah dan stakeholder terkait diharapkan dapat merespons tren ini dengan kebijakan yang mendukung stabilitas ekonomi petani, seperti subsidi harga, program peningkatan produktivitas, dan penguatan pasar bagi produk pertanian. Langkah-langkah strategis ini menjadi krusial dalam menjaga keseimbangan ekonomi di sektor agraris Kalimantan Tengah. (TESTI PRISCILLA/H)









