PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat nilai ekspor provinsi tersebut pada Maret 2025 mencapai US$270,36 juta, mengalami penurunan 10,64 persen dibanding Februari 2025 dan turun 19,05 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Meskipun terjadi penurunan, Kalimantan Tengah tetap mencatat surplus neraca perdagangan yang signifikan.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa komoditas utama ekspor selama Maret 2025 terdiri dari batu bara, minyak kelapa sawit, bijih zirconium, niobium, dan tantalum, serta berbagai produk hasil hutan seperti kayu lapis dan veneer.

"Selain itu, komoditas seperti karet remah, kimia dasar organik dari hasil pertanian, lignit, dan bahan mineral lainnya juga berkontribusi terhadap nilai ekspor," kata Agnes dalam penyampaian berita resmi statistik pada Jumat, 2 Mei 2025.

Di sisi lain, nilai impor Kalimantan Tengah pada Maret 2025 tercatat hanya sebesar US$0,09 juta, mengalami penurunan drastis 94,55 persen pada Februari 2025 dan turun 98,87 persen dibanding Maret 2024. Komoditas utama yang diimpor adalah mesin ekstraksi, yang seluruhnya berasal dari Malaysia.

"Meskipun ekspor mengalami penurunan, neraca perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah tetap mencatat surplus sebesar US$270,27 juta," kata Agnes lagi.

Agnes Widiastuti menambahkan bahwa keunggulan ekspor dibanding impor menjadi indikator positif bagi perekonomian daerah, meskipun terdapat penurunan nilai perdagangan dibanding bulan sebelumnya.

Adapun negara tujuan utama ekspor Kalimantan Tengah selama Maret 2025 meliputi Jepang, India, dan Korea Selatan, yang terus menjadi mitra dagang utama bagi provinsi tersebut.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspor Kalimantan Tengah tetap memiliki pasar yang stabil di tingkat internasional, meskipun terjadi penurunan nilai ekspor secara keseluruhan,” ujar Agnes.

BPS Kalimantan Tengah terus memantau pergerakan ekspor dan impor, serta faktor-faktor yang memengaruhi perubahan nilai perdagangan. Diharapkan, komoditas utama seperti batu bara dan minyak kelapa sawit tetap menjadi andalan untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah dalam beberapa bulan ke depan. (TESTI PRISCILLA/H)