PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Dalam wawancara eksklusif di program Squawkbox pada Rabu, 14 Mei 2025, Direktur Utama PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS, Jap Hartono, menegaskan bahwa salah satu kunci keberhasilan bisnis kelapa sawit adalah kehadiran langsung di lapangan.

Menurutnya, industri sawit berbeda dengan sektor manufaktur karena operasionalnya tersebar di berbagai lokasi.

Hartono mengungkapkan bahwa SSMS memiliki planted area seluas 82 ribu hektar, lebih luas dari Singapura. Sementara total lahan yang dikelola oleh perusahaan mencapai 115 ribu hektar, setara dengan satu setengah kali luas Singapura.

"Kalau kita nggak ke lapangan, kita nggak akan tahu apa-apa. Itu penting sekali," ujarnya, menekankan pentingnya keterlibatan langsung manajemen dalam operasional perkebunan.

Hal ini menjadi strategi SSMS dalam menghadapi persaingan bisnis antar pelaku usaha sawit juga sehingga SSMS mampu mempertahankan kualitas dan kinerjanya.

Selain keberadaan di lapangan, SSMS juga berfokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya. Hartono menyebutkan bahwa perusahaan selalu berupaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman, termasuk melalui program replanting dan penerapan teknologi terbaru.

“Kita harus mau belajar bagaimana meningkatkan produktivitas, karena ini adalah faktor utama yang menentukan keberlanjutan bisnis,” tuturnya.

Efisiensi biaya menjadi perhatian utama SSMS dalam menjalankan operasionalnya. Hartono menjelaskan bahwa SSMS terus melakukan pengawasan ketat terhadap struktur biaya, dengan fokus pada pengendalian pengeluaran harian.

“Kami setiap hari fokus pada cost, karena itu faktor yang sangat krusial,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa biaya operasional SSMS saat ini berada di kisaran 400 dolar per hektar per tahun, angka yang relatif kompetitif di industri.

Selain strategi efisiensi dan keberadaan aktif di lapangan, SSMS juga berupaya meningkatkan daya saing di tengah dinamika industri sawit global. Perusahaan terus memperkuat sistem manajemen kebun, meningkatkan kapasitas produksi, dan memanfaatkan peluang pasar dengan diversifikasi produk sawit yang bernilai tambah.

Dengan pendekatan ini, SSMS optimis bahwa mereka dapat terus mempertahankan kinerja positif serta menghadapi tantangan industri sawit, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hartono menegaskan bahwa keberlanjutan, efisiensi, dan kehadiran di lapangan akan menjadi pilar utama dalam strategi bisnis SSMS ke depan. (TESTI PRISCILLA/H)