PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Studi ekskursi yang dilaksanakan mahasiswa Program Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan atau PSL Universitas Sumatera Utara atau USU dirancang sebagai pendekatan holistik dalam pendidikan doktoral, menggabungkan tiga elemen utama yakni penguatan konsep teoritis, validasi empirik di lapangan, dan refleksi kritis terhadap konteks lokal.

"Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat mengidentifikasi fenomena yang berpotensi menjadi fokus disertasi mereka, baik dalam aspek morfologi kawasan, ketahanan ekosistem pesisir, maupun strategi perencanaan partisipatif," kata Dosen Pengampu, Prof Rahmawaty kepada Borneonews pada Sabtu, 17 Mei 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Urban Planning, yang diampu oleh Prof. Dr. Rahmawaty, S.Hut., M.Si., IPU dan Isnen Fitri, S.T., M.Eng., Ph.D. serta diikuti oleh mahasiswa program doktoral antara lain Suranto, Eling Tuhono, Suarno, Darnianti, dan Ismayadi.

Dengan pengalaman langsung di lapangan, mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan gagasan yang relevan dengan tantangan nyata di wilayah pesisir.

"Kawasan pesisir Belawan menjadi ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam memahami keterhubungan antara tekanan pembangunan, krisis ekologi, dan ketahanan masyarakat," jelasnya.

Wilayah ini menghadapi tantangan besar, mulai dari alih fungsi lahan hingga degradasi ekosistem mangrove yang menjadi penyangga utama bagi komunitas pesisir.

Observasi yang dilakukan mahasiswa selama ekskursi memberikan data kualitatif dan kuantitatif yang dapat digunakan dalam riset transdisipliner, memperkaya analisis mereka tentang interaksi antara manusia dan lingkungan.

Melalui pendekatan transdisipliner, mahasiswa diajak untuk melihat pesisir Belawan bukan hanya sebagai area geografis tetapi sebagai sistem yang kompleks, di mana berbagai faktor sosial, ekonomi, dan ekologis saling berinteraksi.

Diskusi dengan komunitas lokal, pemangku kebijakan, serta pengelola konservasi memberikan perspektif yang luas tentang bagaimana strategi pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan dalam konteks pesisir.

Pengalaman ini memungkinkan mereka untuk merancang metodologi riset yang tidak hanya berbasis data, tetapi juga mempertimbangkan realitas sosial yang ada.

"Selama kegiatan ekskursi, mahasiswa juga melakukan analisis terhadap ketahanan ekosistem pesisir dalam menghadapi perubahan iklim dan tekanan antropogenik," katanya.

Dengan mengamati kondisi vegetasi mangrove, distribusi keanekaragaman hayati, serta pola adaptasi masyarakat pesisir, mereka memperoleh gambaran yang lebih utuh tentang mekanisme ketahanan lingkungan yang dapat dikembangkan dalam kebijakan perencanaan kota.

Pendekatan berbasis bukti ini menjadi krusial dalam menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan berdaya guna.

Mahasiswa tidak hanya melakukan observasi pasif, tetapi juga berpartisipasi dalam refleksi kritis terhadap kondisi lingkungan dan sosial yang mereka temui.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung selama perjalanan, mereka membahas berbagai strategi mitigasi dan adaptasi yang dapat diterapkan untuk memperkuat ketahanan pesisir.

Dengan mempertimbangkan hasil observasi dan interaksi dengan komunitas lokal, mereka mulai merancang kerangka riset yang dapat memberikan kontribusi nyata dalam bidang perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam.

Ekskursi ini menjadi salah satu upaya dalam membangun kapasitas akademik yang mampu menjawab tantangan pembangunan di era perubahan iklim.

Dengan pendekatan yang mengintegrasikan teori dan praktik, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami permasalahan lingkungan secara konseptual tetapi juga mampu menawarkan solusi berbasis riset yang dapat diterapkan dalam kebijakan publik.

Pengalaman di pesisir Belawan tidak hanya memperkaya wawasan akademik mereka, tetapi juga memperkuat sensitivitas sosial dan ekologis yang sangat dibutuhkan dalam perencanaan kota berkelanjutan.(TESTI PRISCILLA/R)