PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di penghujung Lokakarya Luring Penulisan Cerita Anak Berbahasa Daerah 2025, suasana hangat menyelimuti sesi perpisahan. Salah satu momen yang paling berkesan datang dari sosok Lelay Nangkai Puji, seorang peserta yang tetap aktif menulis di masa-masa menjelang pensiun. Dalam kesempatan ini, ia berbagi harapan agar tetap bisa berkarya meski nantinya telah memasuki masa pensiun.

"Saya berharap, walaupun sudah pensiun nanti, saya tidak dianggap terlalu tua untuk tetap menulis cerita anak bersama Balai Bahasa Kalteng," ungkapnya dengan penuh semangat usai kegiatan 21-24 Mei 2025 di Palangka Raya ini.

Bagi Lelay, menulis bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah panggilan jiwa yang terus membara. Tulisan karya Lelay bahkan telah menembus kancah nasional.

"Di usia menjelang pensiun ini malah saya rasa semakin sibuk karena saya bahkan diminta untuk masuk MKKS karena telah menjadi Guru Utama yang terlibat dalam Revitalisasi Bahasa Daerah," kata Lelay lagi.

Ia menambahkan bahwa atmosfer lokakarya yang penuh energi dari para peserta muda telah menjadi sumber motivasi baginya untuk tetap menghasilkan karya.

Pernyataan Lelay mendapat sambutan hangat dari peserta lain, termasuk mahasiswa yang baru menapaki dunia penulisan cerita anak. Mereka mengapresiasi semangat dan dedikasi Lelay yang tetap mempertahankan kecintaannya pada literasi berbahasa daerah. Baginya, keberadaan penulis senior seperti dirinya di tengah komunitas penulis muda adalah bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk tetap berkarya.

--page

Lokakarya ini tidak hanya menjadi ajang untuk menulis dan berbagi pengetahuan, tetapi juga wadah bagi berbagai generasi untuk saling menginspirasi. Para peserta muda mengaku mendapatkan banyak pembelajaran dari pengalaman penulis senior seperti Lelay, sementara para penulis senior merasa bersemangat melihat gairah baru yang ditunjukkan generasi muda.

Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah pun mengapresiasi keberagaman usia dalam lokakarya ini. Kepala Balai Bahasa, Sukardi Gau, menegaskan bahwa menulis adalah dunia yang terbuka bagi siapa saja.

"Tidak ada batasan usia dalam berkarya. Setiap orang memiliki cerita yang unik, dan kita harus terus mendorong lahirnya lebih banyak cerita anak berbahasa daerah yang kaya nilai budaya," ujarnya.

Dengan berakhirnya lokakarya, semangat berkarya terus membara di hati para peserta. Harapan Lelay untuk tetap menulis di masa pensiun menjadi simbol bahwa literasi adalah jembatan yang menghubungkan generasi, mengabadikan budaya, dan menginspirasi anak-anak melalui kisah-kisah berharga dalam bahasa daerah mereka. (TESTI PRISCILLA/Y)