PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah mencatat bahwa seluruh ekspor daerah tersebut pada Maret 2025 merupakan komoditas non-migas dengan nilai mencapai US$270,36 juta.

Angka ini mengalami penurunan sebesar 10,64 persen dibandingkan Februari 2025 yang tercatat US$302,54 juta. Sementara itu, total volume ekspor juga mengalami kontraksi 14,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa ekspor hasil tambang masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap total ekspor.

"Pada Maret 2025, nilai ekspor hasil tambang mencapai US$180,24 juta, menyumbang 66,67 persen dari total ekspor provinsi. Namun, jika dibandingkan dengan Februari 2025, terjadi penurunan ekspor hasil tambang sebesar US$48,28 juta atau turun 21,13 persen," kata Agnes pada Senin, 26 Mei 2025.

Komoditas utama dari ekspor hasil tambang Kalimantan Tengah meliputi batu bara, bijih zirconium, niobium dan tantalum, lignit, bahan mineral lainnya, bijih titanium, serta zirconium silikat.

"Penurunan ekspor hasil tambang ini disebabkan oleh faktor permintaan global serta dinamika harga komoditas di pasar internasional," ujar Agnes Widiastuti.

Sementara itu, ekspor hasil industri pengolahan mengalami tren positif. Nilai ekspor sektor ini mencapai US$86,88 juta dan berkontribusi sebesar 32,13 persen terhadap total ekspor Maret 2025. Jika dibandingkan dengan Februari 2025, terjadi peningkatan senilai US$15,24 juta atau naik 21,27 persen.
Komoditas utama dari ekspor hasil industri pengolahan Kalimantan Tengah terdiri dari minyak kelapa sawit, kayu lapis, karet remah, kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, serta bungkil dan residu.

"Kinerja ekspor industri pengolahan yang meningkat menunjukkan adanya peningkatan daya saing produk olahan Kalimantan Tengah di pasar internasional," tambah Agnes.

BPS juga mencatat bahwa negara tujuan utama ekspor Kalimantan Tengah pada Maret 2025 meliputi Jepang, India, dan Korea Selatan. Di sisi lain, neraca perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah tetap mengalami surplus sebesar US$270,27 juta, meskipun turun dibandingkan bulan sebelumnya.
Agnes Widiastuti menambahkan bahwa tren ekspor Kalimantan Tengah dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global serta kebijakan perdagangan internasional.

“Kami berharap sektor industri pengolahan terus berkembang untuk menjaga keseimbangan ekspor provinsi ini,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/H)