BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Maret 2025, nilai ekspor Kalimantan Tengah mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Total ekspor mencapai US$270,36 juta, turun 10,64 persen dari Februari 2025.
Penurunan ini terutama terjadi pada kelompok komoditas bahan bakar mineral, kayu dan barang dari kayu, serta karet dan barang dari karet.
"Komoditas utama ekspor Kalimantan Tengah selama Maret 2025 tetap didominasi oleh batu bara, minyak kelapa sawit, serta bijih zirconium, niobium, dan tantalum," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti pada Rabu, 28 Mei 2025.
Batu bara mengalami penurunan ekspor paling signifikan, dengan nilai turun sebesar US$47,83 juta atau 22,04 persen dibanding bulan sebelumnya.
"Ekspor kayu dan barang dari kayu juga merosot hingga 63,28 persen, sementara karet dan barang dari karet turun 23,79 persen," katanya.
Meski demikian, terdapat beberapa kelompok komoditas yang mencatat peningkatan ekspor. Kelompok lemak dan minyak hewani/nabati mengalami lonjakan terbesar dengan nilai ekspor naik sebesar US$27,54 juta atau 62,45 persen. Kenaikan ini menunjukkan adanya permintaan yang lebih tinggi untuk minyak kelapa sawit di pasar global.
"Dalam perbandingan tahunan (year-on-year), ekspor Kalteng pada Maret 2025 turun sebesar US$63,62 juta atau 19,05 persen dibanding Maret 2024," tuturnya.
Penurunan terbesar kembali terjadi pada kelompok bahan bakar mineral, dengan nilai ekspor berkurang sebesar US$90,10 juta atau turun 34,75 persen. Selain itu, ekspor kayu dan barang dari kayu serta bijih, kerak, dan abu logam juga mengalami penurunan cukup signifikan.
"Secara kumulatif, ekspor Kalteng pada periode Januari-Maret 2025 mengalami penurunan sebesar US$272,86 juta atau 23,87 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terjadi pada kelompok bahan bakar mineral, yang turun sebesar US$310,02 juta atau 33,69 persen," terang Agnes lagi.
Penurunan ekspor ini mencerminkan berbagai dinamika pasar global, termasuk fluktuasi permintaan dan harga komoditas utama. Pemerintah daerah dan pelaku industri di Kalimantan Tengah perlu mencermati tren ini dan mengupayakan strategi untuk meningkatkan daya saing ekspor di tengah tantangan ekonomi global yang terus berubah. (TESTI PRISCILLA/H)









