BORNEONEWS, Palangka Raya - Tahap krusial dalam pengembangan paper bag berbasis tandan kosong kelapa sawit atau TKKS adalah penambahan resin sintetik biodegradable sebagai agen penguat basah.
Dalam proses penelitian, enam jenis resin diuji dengan konsentrasi variatif mulai dari 0 hingga 15 persen. Prosedur ini melibatkan metode handsheet making dengan berat dasar 125 g/m kuadrat, proses pengempaan bertekanan 200 kg/cm kuadrat, dan pemanasan pada suhu 120 derajat C selama dua menit untuk mencapai karakteristik optimal.
Salah satu temuan penting adalah resin kationik berbasis gugus azetidinium dan etilen imin, yang terbukti paling efektif. Resin ini mampu membentuk ikatan ester yang kuat dengan gugus karboksil selulosa bermuatan negatif, menghasilkan wet to dry tensile ratio (W/D ratio) mencapai 68 persen.
Menurut tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Sari Farah Dina, nilai tersebut memberi harapan besar untuk aplikasinya dalam lingkungan pembibitan sawit yang sering menghadapi kondisi lembab. Kekuatan kertas saat basah menjadi penentu keberhasilan paper bag TKKS dalam menggantikan polybag plastik. Dalam uji laboratorium, resin biodegradable ini tidak hanya memberikan kekuatan mekanik yang memadai, tetapi juga tetap menjaga kompatibilitas lingkungan. Meskipun proses degradasi berlangsung lambat tanpa bantuan mikroba, potensi untuk terurai tetap jauh lebih baik dibandingkan plastik konvensional.
Tak mengherankan, inovasi ini masuk dalam daftar 115 karya paling prospektif versi lembaga inovasi nasional. Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrahman, menyebutkan bahwa pendekatan ini merupakan bukti bahwa riset terapan mampu menjawab tantangan industri sawit yang berkelanjutan.
“Ini adalah langkah nyata mewujudkan ekonomi sirkular,” kata Eddy dalam rilisnya pada Sabtu, 2 Agustus 2025.
Uji coba lapangan paper bag TKKS kini sedang berlangsung di berbagai lokasi pembibitan kelapa sawit. Data awal menunjukkan bahwa produk ini mampu bertahan secara struktural selama fase awal pertumbuhan bibit, tanpa menimbulkan residu berbahaya. Proses pengajuan hak paten juga sedang dalam tahap verifikasi oleh Direktorat Kekayaan Intelektual.
Dengan pemanfaatan limbah TKKS sebagai bahan baku, pendekatan ini sekaligus menjawab dua masalah besar: pengelolaan limbah sawit dan pengurangan plastik. Jika berhasil diterapkan secara masif, industri sawit Indonesia akan memiliki sistem pembibitan yang lebih hijau dan efisien.
“Kolaborasi riset, industri, dan kebijakan publik seperti ini menjadi fondasi menuju transformasi hijau. Paper bag TKKS bukan hanya produk, tetapi gerakan perubahan menuju industri sawit yang bertanggung jawab secara lingkungan,” tutur Eddy Abdurrahman dalam pernyataan resminya. (TESTI PRISCILLA/H)









