BORNEONEWS, Palangka Raya - Menyikapi peringatan dini musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG serta arahan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia dalam Apel Kesiapsiagaan Penanganan Karhutla Nasional 2025, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS menegaskan peran strategisnya sebagai pelaku industri sawit yang responsif terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla di Kalimantan Tengah.
Tak sekadar menjalankan kewajiban regulatif, SSMS menunjukkan komitmen keberlanjutan melalui berbagai langkah nyata di lapangan. Perusahaan ini menggandeng banyak pihak, mulai dari pemerintah desa, aparat TNI/Polri, hingga masyarakat lokal dalam upaya pencegahan dan penanggulangan Karhutla. Kolaborasi multipihak ini diyakini sebagai fondasi utama keberhasilan SSMS menjaga kawasan konsesinya tetap bebas dari api.
Chief of Sustainability Officer SSMS, Henky Satrio W menuturkan bahwa perusahaan telah memperkuat sejumlah inisiatif kolaboratif. Diantaranya adalah pembentukan forum komunikasi Karhutla SSMS yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni. Forum ini aktif melaksanakan patroli gabungan, berbagi informasi hotspot, dan melakukan evaluasi berkala terhadap potensi risiko kebakaran.
“Kolaborasi lintas lembaga dan komunitas menjadi kunci dalam menciptakan respons yang cepat dan terukur di lapangan,” ujar Henky dalam rilisnya pada Sabtu, 2 Agustus 2025.
Ia menambahkan, selain patroli rutin, SSMS juga menyediakan pelatihan bagi tim tanggap darurat lokal dan mengoptimalkan penggunaan teknologi pemantauan berbasis satelit untuk deteksi dini.
"Langkah-langkah ini sejalan dengan pendekatan pencegahan yang diusung SSMS, yang menempatkan edukasi masyarakat sebagai bagian integral dari strategi pengendalian Karhutla," katanya.
Program desa siaga api dan simulasi kebakaran secara berkala menjadi bagian penting dari membangun kesadaran kolektif terhadap risiko dan dampak Karhutla.
Dengan komitmen berkelanjutan dan pendekatan kolaboratif, SSMS membuktikan diri sebagai entitas industri yang tidak hanya peduli terhadap keberlangsungan bisnis, namun juga terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
"Di tengah tantangan musim kemarau 2025, langkah aktif SSMS menjadi contoh konkrit peran sektor swasta dalam mitigasi bencana ekologis," terang Henky. (TESTI PRISCILLA/H)









