BORNEONEWS, Palangka Raya – Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi regional (Divre) V Kalimantan Tengah (Kalteng) hingga saat ini baru bisa menyerap 17% lebih beras petani. Dari target 14 ribu ton, Bulog masih merealisasikan 9.300 ton sampai Oktober 2016 ini.

Kepala Bulog Divre V Kalteng Sopran Kenedi mengatakan, masih minimnya serapan anggaran tersebut sebagian disebabkan karena fluktuasi harga di tingkat petani yang cukup tinggi. Penaikan harga itu menurut Sopran cukup bagus, namun kenadalanya, Bulog tidak bisa membeli karena ada standar harga pembelian pemerintah atau HPP sebagai patokan.

“Dengan patokan harga itu, kami tidak bisa asal beli. Saat ini yang sudah terserap 2.400 ton dari target 14 ribu ton, atau baru 17% lebih. Ini karena harga di tingkat produsen sudah tinggi diluar yang ditetapkan HPP,” kata dia, Rabu (2/11/2016).

Menjelaskan dari mana saja daerah di Kalteng yang sudah panen dan banyak berkontribusi, Kepala Bulog yang baru menjabat ini mengatakan ad empat kabupaten, yaitu Kapuas, Pulang Pisau (Pulpis), Kotawaringin Timur (Kotim), dan Katingan.

Bulog Kalteng, sambung Sopran, akan membeli hasil penen petani dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah pusat. Yaitu untuk gabah kering panen (GKP) dengan harga Rp 3.650/Kg, lalu gabah kering giling (GKG) seharga Rp4.700/Kg, dan Rp7.300 untuk beras.

Terkait program pencetakan sawah yang digalakkan pemerintah pusat termasuk Kalteng yang ‘kecipratan jatah’ proyek pencetakan tersebut, Sopran menjanjikan akan serap hasil panen dari program itu. Syaratnya cuma satu, ikuti standar Bulog dan harga menyesuaikan HPP.

“Termasuk hasil program pencetakan sawah nanti akan juga diserap Bulog sesuai standar HPP,” jelasnya. (ROZIKIN/m)