BORNEONEWS, Tamiang Layang – Pemerintah Kabupaten Barito Timur turun tangan menangani persoalan sosial yang menimpa pasangan suami istri, Rizky Amirul (29) dan Rahma Rina Mistika (35). Pasangan ini sempat ditolak warga Desa Matabu karena dianggap menelantarkan tujuh anak mereka dan tidak membayar kontrakan rumah.
Asisten I Sekretariat Daerah Barito Timur, Ari Panan P Lelu, menjelaskan kasus tersebut pertama kali diketahui dari laporan aparat kepolisian dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB). Hasil penelusuran menemukan bahwa anak-anak pasangan ini kerap terlihat dekil, tidak berpakaian, bahkan buang air sembarangan di sekitar lingkungan.
“Dua hari lalu kami menerima laporan dari Kapolsek dan Kepala DP3AKB. Orang tuanya menelantarkan anak-anak, sehingga warga sekitar merasa terganggu,” ungkap Ari Panan, Sabtu, 30 Agustus 2025.
Upaya mediasi sempat dilakukan dengan melibatkan camat, lurah, serta bhabinkamtibmas. Rencananya keluarga ini akan ditempatkan di Ampah karena ada kerabat yang bersedia menampung. Namun, ketika diantar dengan dua kendaraan, pihak keluarga yang dituju tidak ada di tempat dan nomor telepon yang diberikan tidak bisa dihubungi.
“Karena itu, kami tarik kembali ke Tamiang Layang untuk ditangani di tingkat kabupaten. Kami tanyakan langsung kepada pasangan ini, apakah ingin tetap di Barito Timur atau pulang ke keluarga. Jika menetap, pemerintah siap mencarikan solusi, termasuk menitipkan anak-anak ke panti asuhan agar lebih terawat. Namun akhirnya mereka memilih pulang ke Sampit, tempat keluarga pihak suami,” jelas Ari Panan.
Pemkab kemudian memastikan kepulangan keluarga tersebut dengan berkoordinasi bersama Babinsa, bhabinkamtibmas, dan pihak keluarga di Sampit. Setelah berkomunikasi dengan ibu dari Rizky Amirul, kepastian diperoleh bahwa keluarga ini diterima kembali.
“Semua biaya pemulangan ditanggung pemerintah daerah. Kami menyiapkan dua kendaraan, satu mobil pick up untuk barang-barang dan satu mobil untuk keluarga. Mereka juga menandatangani surat pernyataan agar benar-benar menetap di satu daerah, bekerja, dan mengurus anak-anak dengan baik,” tegas Ari Panan.
Ia menambahkan, keluarga tersebut sudah tiba dengan selamat di Sampit pada Sabtu pagi. Informasi dari masyarakat menyebutkan, pasangan suami istri itu diduga kecanduan judi online. Setiap kali mendapatkan bantuan sosial, uang lebih sering digunakan untuk deposit judi dibanding memenuhi kebutuhan anak-anak atau membayar sewa rumah. Puncaknya, beberapa waktu lalu anak-anak mereka sempat keracunan makanan karena memungut makanan dari tempat sampah. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)









