BORNEONEWS, Sampit – Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur (Kotim) memastikan siap menyerap hasil panen gabah petani pada musim gadu 2025 menyusul tambahan anggaran dari pemerintah pusat.
Kepala Perum Bulog Cabang Kotim Muhammad Azwar Fuad menjelaskan sempat ada jeda penyerapan sekitar satu minggu lalu. Hal itu karena anggaran untuk penyerapan sudah tercapai setara 3 juta ton beras.
"Sehingga Bulog saat itu masih koordinasi dengan Kementerian Pertanian dan kementerian keuangan. Alhamdulillah hari Senin kemarin sudah diputuskan Bulog tetap lanjut menyerap dengan tambahan anggaran dari pemerintah pusat," ujar Azwar Fuad, Sabtu, 27 September 2025.
Dengan anggaran pemerintah pusat tersebut Bulog diperintahkan untuk lanjut menyerap gabah hasil panen musim Gadu. Pada prinsipnya selama masih ada panen Bulog Cabang Kotim akan tetap menyerap gabah petani dengan HPP pemerintah Rp6.500.
Bulog Kotim yang membawahi wilayah kerja Kotim, Seruyan, dan Pagatan (Katingan) mencatat serapan 12.300 ton setara gabah, angka tertinggi sepanjang sejarah. Jumlah ini jauh melampaui capaian sebelumnya yang hanya sekitar 1.000–2.000 ton setara beras atau 3.000 ton setara gabah.
“Angka ini akan terus bertambah seiring berlangsungnya panen musim gadu, terutama di Desa Lampuyang, Kotim. Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Badan Penyuluh Pertanian setempat untuk memastikan serapan berjalan lancar,” katanya.
Untuk menampung hasil panen, Bulog Kotim menambah kapasitas penyimpanan dengan menyewa dua gudang baru. Saat ini kapasitas gudang Bulog yang semula hanya 5.000 ton meningkat menjadi 8.000–9.000 ton.
Azwar juga menegaskan, apabila stok menumpuk di Kotim, pihaknya siap mendistribusikan ke wilayah lain seperti Bulog Kotawaringin Barat yang bukan sentra produksi atau Gunung Mas agar stok tetap merata.
Saat ini, Bulog Kotim memiliki 7.000 ton stok beras di gudang ditambah 2.000 ton gabah yang sedang diolah melalui mitra penggilingan. Dengan total stok 8.000 ton setara beras, ketahanan pasokan di Kotim dipastikan aman hingga 13 bulan ke depan.
“Dengan stok ini, masyarakat tidak perlu khawatir. Ketersediaan beras, khususnya beras medium, aman dan tidak akan terjadi kelangkaan," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









