BORNEONEWS, Palangka Raya - Neraca perdagangan luar negeri Kalimantan Tengah pada Januari hingga Agustus 2025 tetap mencatatkan surplus, meski nilai ekspor dan impor mengalami penurunan signifikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah, nilai ekspor daerah tersebut tercatat sebesar 2.294,76 juta dollar AS, turun 13,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan ekspor terbesar terjadi pada komoditas hasil tambang, khususnya batu bara, yang anjlok hingga 24,91 persen. Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan bahwa fluktuasi harga global dan penyesuaian volume pengiriman menjadi faktor utama penurunan tersebut.
“Batu bara masih menjadi komoditas ekspor utama, namun tekanan pasar global cukup memengaruhi performa ekspor kita,” kata Agnes menyampaikan Berita Resmi Statistik pada Rabu, 1 Oktober 2025.
Selain batu bara, komoditas ekspor utama Kalimantan Tengah meliputi crude palm oil atau CPO, karet remah, kayu olahan, kayu lapis, serta bijih zirconium, niobium, dan tantalum. Negara tujuan ekspor terbesar masih didominasi oleh Jepang, India, dan Tiongkok.
“Ketiga negara tersebut tetap menjadi mitra dagang utama, meski ada penyesuaian volume ekspor,” kata Agnes.
Di sisi lain, nilai impor Kalimantan Tengah selama periode yang sama tercatat sebesar 25,00 juta dollar AS, turun 38,07 persen dibandingkan tahun lalu. Penurunan tertinggi terjadi pada impor bahan bakar mineral seperti aspal dan pupuk. Menurut Agnes, penurunan impor mencerminkan efisiensi penggunaan bahan baku dan penyesuaian kebutuhan industri lokal.
Impor Kalimantan Tengah didominasi oleh mesin ekstraksi, aspal, mesin freeze dryer, ketel uap, mesin motor tempel, dan pupuk. Malaysia, Singapura, dan Tiongkok tercatat sebagai negara pemasok utama.
“Meski nilai impor turun, kebutuhan industri tetap terpenuhi melalui optimalisasi stok dan distribusi,” ujar Agnes.
Dengan ekspor yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan impor, neraca perdagangan Kalimantan Tengah tetap mencatatkan surplus sebesar 2.269,76 juta dollar AS. Agnes menekankan bahwa surplus ini menunjukkan daya saing komoditas unggulan daerah tetap terjaga, meski menghadapi tantangan global.
“Kami akan terus memantau dinamika perdagangan dan mendukung sektor-sektor strategis agar tetap tumbuh,” tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)









