PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah memperkenalkan inovasi terbaru dalam pengujian kemahiran berbahasa Indonesia dengan menyasar peserta dari kalangan disabilitas rungu. Uji coba ini digelar sebagai bagian dari pengembangan instrumen UKBI yang lebih inklusif.

UKBI versi disabilitas rungu merupakan produk baru dari Badan Bahasa yang masih dalam tahap pengembangan. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji sejauh mana instrumen UKBI dapat diadaptasi untuk peserta dengan keterbatasan pendengaran, tanpa mengurangi esensi pengukuran kemampuan berbahasa.

Dr Sukardi Gau, M.Hum., selaku Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan bahwa pengujian ini penting untuk memastikan bahwa semua warga negara memiliki akses terhadap penilaian kemahiran berbahasa.

“UKBI harus bisa menjangkau semua kalangan, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus,” ujar Sukardi dalam rilisnya pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Dalam pelaksanaannya, peserta diuji melalui empat seksi: memirsa, merespon kaidah, membaca, dan menulis. Seksi memirsa menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan konsentrasi tinggi dan adaptasi visual. Ferdi, salah satu peserta, mengaku tertantang namun tetap semangat mengikuti seluruh sesi.

Pendamping peserta memainkan peran penting dalam membantu komunikasi selama ujian berlangsung. Mereka menggunakan bahasa tubuh dan isyarat untuk menjembatani pemahaman soal. Pendamping menyebut bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru bagi siswa disabilitas tentang potensi mereka dalam berbahasa.

Setelah uji coba ini, BBPKT akan mengumpulkan masukan dari peserta dan pendamping untuk menyempurnakan instrumen. Koordinator kegiatan, Arum, menyebut bahwa peluncuran resmi UKBI versi disabilitas rungu direncanakan tahun depan setelah tahap pematangan selesai. (TESTI PRISCILLA/y)