KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Pemkab Kapuas melalui Asisten II Setda Kapuas, Kusmiatie, menyoroti tantangan berat yang dihadapi oleh remaja saat ini dalam sambutannya di HUT IBI ke-74, Rabu, 19 November 2025. 

"Remaja kini berhadapan dengan berbagai persoalan kompleks, mulai dari isu kesehatan reproduksi, risiko pernikahan dini, penyalahgunaan narkoba, hingga dampak negatif dari arus informasi digital," ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, Kusmiatie menegaskan bahwa bidan memiliki kompetensi holistik untuk memberikan edukasi yang sensitif dan tepat sasaran. Edukasi ini mencakup pemahaman mengenai pubertas, kesehatan reproduksi, pencegahan penyakit menular seksual, hingga perencanaan keluarga sehat. Ia menekankan bahwa remaja yang sehat hari ini adalah calon orang tua cerdas di masa depan.

Dalam kesempatan tersebut, Asisten II menyampaikan tiga ajakan penting kepada seluruh bidan di Kabupaten Kapuas. Ajakan pertama adalah mengintegrasikan edukasi kesehatan reproduksi remaja ke dalam kegiatan pelayanan di tingkat desa dan kelurahan. Hal ini diharapkan dapat dilakukan secara rutin, termasuk melalui kegiatan posyandu agar jangkauannya lebih luas.

Ajakan kedua adalah dorongan untuk terus meningkatkan kompetensi profesional. Kusmiatie meminta para bidan aktif mengikuti seminar, pelatihan, dan kegiatan ilmiah lainnya. Peningkatan kapasitas diri ini dinilai krusial agar para bidan dapat terus beradaptasi dengan perkembangan ilmu kesehatan dan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

Ajakan ketiga berkaitan dengan peran aktif bidan dalam percepatan penurunan angka stunting. Kusmiatie menekankan bahwa edukasi kesehatan reproduksi remaja merupakan bagian vital dari pencegahan stunting sejak hulu. Dengan pemahaman reproduksi yang baik, diharapkan calon pengantin dan ibu muda dapat mempersiapkan kehamilan yang sehat.

Di akhir pesannya, Kusmiatie mengingatkan bahwa menciptakan generasi remaja yang sehat membutuhkan sinergi yang kuat. Pemerintah Kabupaten Kapuas memberikan apresiasi tinggi terhadap program IBI, namun keberhasilannya tetap memerlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, DP3APPKB, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan tentunya keluarga. (SABRIANOOR/y)