SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit menyebut titik panas (hotspot) mulai muncul di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). 

"Dari pemantauan, kemarin terdeteksi sekitar 15 titik hotspot, dan hari ini kembali muncul sekitar 8 titik. Ke depan, jumlahnya diprediksi masih berpotensi bertambah karena tingkat kerawanan kebakaran di Kalimantan Tengah cukup tinggi," kata Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit Rizaldo Raditya Pratama, Jumat, 16 Januari 2026.

Ia menyampaikan, dalam dua hingga tiga hari ke depan kondisi cuaca di Kotim diprakirakan cerah hingga berawan, dengan curah hujan yang cenderung menurun. Meski demikian, peluang hujan masih ada, namun bersifat sementara, lokal, dan berdurasi singkat.

Penurunan intensitas hujan tersebut berdampak langsung pada kondisi lahan yang semakin kering. Situasi ini menjadi perhatian serius karena wilayah Kotim didominasi oleh lahan gambut, yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan hingga lapisan dalam.

Berdasarkan data BMKG, kawasan Kotim bagian utara seperti Telaga Antang dan Antang Kalang menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi. Namun dalam beberapa hari terakhir, wilayah selatan juga mulai menunjukkan kemunculan titik panas, salah satunya di Kecamatan Teluk Sampit.

Rizaldo menjelaskan, kondisi cuaca saat ini dipengaruhi oleh masa transisi musim. Setelah mengalami musim hujan yang beberapa bulan sebelumnya, Kotim kini mulai memasuki fase peralihan menuju musim kemarau.

"Mulai sekarang hingga beberapa minggu ke depan, curah hujan akan terus berangsur menurun. Awal musim kemarau diperkirakan terjadi pada Februari hingga Maret, meski tidak menutup kemungkinan bergeser ke April, sesuai tren data beberapa tahun terakhir," paparnya.

Ia menambahkan, hujan dengan intensitas ringan dan durasi singkat belum tentu mampu membasahi lahan secara optimal. Kemampuan tanah menyerap air sangat bergantung pada kondisi resapan, ketebalan tanah, hingga struktur batuan di bawahnya.

"Hujan singkat biasanya hanya membasahi permukaan, belum tentu masuk ke kedalaman tanah. Ini yang menyebabkan lahan tetap kering dan rawan terbakar," ujarnya.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

"Curah hujan mulai menurun, sehingga pemicu sekecil apapun bisa menyebabkan hal-hal yang tidak kita inginkan seperti kebakaran hutan dan lahan. Kita tahu penyebarannya juga cukup cepat, jadi harus lebih berhati-hati apabila bisa menyebabkan kebakaran hutan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)