BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Palangka Raya, Sumadi, menyatakan bahwa kondisi cuaca yang tidak stabil memberikan dampak signifikan pada sektor hortikultura kota ini.
Menurutnya, komoditi unggulan seperti cabai rawit, cabai besar, timun, melon, semangka, serta sayuran hijau lainnya banyak mengalami gagal panen atau penurunan produksi yang cukup drastis.
Sumadi menjelaskan bahwa pola cuaca yang tidak teratur, mulai dari musim kemarau yang berkepanjangan hingga hujan lebat dan badai yang tiba-tiba, menjadi faktor utama penyebab kerusakan tanaman.
"Di sisi lain, hujan deras yang terjadi secara tiba-tiba dapat menyebabkan genangan air, pembusukan akar, serta penyebaran penyakit pada tanaman," katanya, Jumat, 16 Januari 2026.
Menurutnya, dampak tersebut tidak hanya merugikan petani secara ekonomi tetapi juga berdampak pada ketersediaan dan stabilitas harga komoditas hortikultura di pasar Palangka Raya.
Beberapa komoditi seperti cabai rawit bahkan pernah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan akibat kelangkaan pasokan.
"Hortikultura merupakan sektor yang sangat penting bagi perekonomian masyarakat dan ketahanan pangan daerah, sehingga dampak cuaca yang mengganggu produksi ini harus menjadi perhatian serius," ujarnya.
Sumandi mengusulkan agar pemerintah daerah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dampak cuaca pada tanaman hortikultura.
Beberapa langkah yang diusulkan antara lain peningkatan penyediaan infrastruktur irigasi dan drainase yang memadai, penyediaan bibit tanaman yang tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem, serta pemberian pelatihan kepada petani tentang teknik budidaya yang adaptif dengan perubahan iklim.
Sumadi berharap dengan upaya yang komprehensif dari semua pihak, dampak cuaca pada sektor hortikultura dapat ditekan dan produktivitas tanaman dapat kembali meningkat.
"Kita harus beradaptasi dengan perubahan iklim dan membuat langkah antisipatif agar sektor hortikultura tetap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Palangkaraya," pungkasnya. (MARINI/H)









