SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kemunculan buaya di kawasan Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), kembali menjadi perhatian. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Sampit mencatat sedikitnya empat laporan kemunculan buaya di wilayah wisata tersebut.

"Dari data kami, buaya muncul di sekitar Pantai Ujung Pandaran sudah empat kali. Untuk serangan terhadap manusia di wilayah itu belum pernah ada laporan," kata Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah, Senin, 2 Maret 2026.

Meski kewenangan penanganan buaya kini telah beralih, Muriansyah menegaskan pihaknya tetap aktif memberikan imbauan kepada masyarakat agar selalu waspada saat beraktivitas di perairan, termasuk di kawasan Pantai Ujung Pandaran. 

Selain itu, ia menegaskan, sebenarnya masyarakat tidak diperbolehkan menangkap buaya karena selain berbahaya dan mengancam keselamatan. 

"Sebenarnya tidak boleh karena sangat berbahaya. Tapi di kejadian ini sepertinya buaya terlebih dulu kena jaring perangkap ikan," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Kepala Desa Ujung Pandaran Taufik menjelaskan kronologi penangkapan seekor buaya oleh warga setelah dua video penangkapan buaya viral di media sosial.

Buaya tersebut terjerat jaring nelayan yang dipasang di tepi pantai pada Jumat pagi, 27 Februari 2026 sekitar pukul 09.00 WIB.

"Benar itu kena jaring nelayan di tepi pantai. Kejadiannya Jumat sekitar jam 9 pagi. Masih hidup, posisinya diikat diletakkan di bawah pohon cemara," kata Taufik, Minggu, 1 Maret 2026.

Ia menjelaskan, buaya tersebut diduga hendak memakan ikan yang terperangkap di dalam jaring yang ditebar nelayan dari pinggir pantai. Namun justru predator itu yang akhirnya ikut tersangkut dan tertangkap.

Selama ini, kemunculan buaya di kawasan Pantai Ujung Pandaran disebut lebih sering memangsa ikan dan tidak pernah dilaporkan menyerang manusia.

"Kalau di pantai itu sering orang sebut buaya capit, sering makan ikan. Nelayan yang menangkap ikan itu sering bertemu tapi buaya tidak menyambar atau menyerang," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)