BORNEONEWS, Sampit – Seekor buaya yang ditangkap warga di kawasan Pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), hingga kini masih dalam kondisi hidup dan terikat di daratan pantai sejak Jumat, 27 Februari 2026.
"Tadi saya cek masih terikat di bawah pohon cemara dan masih hidup. Kondisinya diikat di darat karena warga takut melepaskan. Kalau dilepas takut menyerang warga," ujar Kepala Desa Ujung Pandaran Taufik, Senin, 2 Maret 2026.
Ia mengatakan, warga memilih membiarkan buaya tetap terikat karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Bahkan, sebagian masyarakat takut buaya tersebut akan balas dendam menyerang jika dilepaskan kembali ke perairan.
"Kami mau lapor juga bingung melapor ke mana. Karena baru kali kejadian seperti ini," tambahnya.
Buaya yang terikat tersebut berada di kawasan pantai yang dapat terlihat dari jalan yang biasa dilalui anak-anak sekolah. Akibatnya, predator air tersebut menjadi tontonan warga, termasuk anak-anak. Anak-anak sempat mencoba mendekat dan memancing reaksi buaya dengan kayu hingga hewan tersebut terlihat agresif.
"Buaya itu jadi tntonan anak-anak, dikasih kayu mulutnya lalu reaksi buayanya ngamuk. Jadi melihat perilakunya seperti itu daripada ada korban lebih baik diikat," katanya.
Disisi lain, Dinas Perikanan Kotim saat dikonfirmasi mengenai penanganan buaya mengaku belum dapat melaksanakannya karena belum ada petunjuk teknis.
Kepala Diskan Kotim Ahmad Sarwo Oboi melalui Kabid Pengelolaan Perikanan Tangkap Ikhsan Humairi menjelaskan, penanganan buaya saat ini masih dalam masa peralihan kewenangan pengelolaan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dari Kementerian Kehutanan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP).
Berdasarkan petunjuk yang diterima, KKP nantinya akan menugaskan petugas teknis khusus ke daerah untuk menangani buaya. Namun hingga kini, belum ada arahan teknis lebih lanjut dari pemerintah pusat.
"Peralihan kewenangan ini sudah terlaksana sejak bulan Agustus 2024, namun sampai saat ini masih belum ada petunjuk ataupun informasi dari KKP utk hal ini," kata Ikhsan, Senin, 2 Maret 2026.
Ikhsan menambahkan, tingkat konflik antara manusia dan buaya di wilayah Kotim tergolong cukup tinggi. Karena itu, Diskan Kotim berinisiatif melakukan koordinasi langsung dengan Dislutkan Kalteng serta KKP RI untuk memperjelas langkah penanganan.
Langkah ini diambil agar penanganan buaya di Kotim memiliki dasar hukum dan teknis yang jelas, mengingat perubahan kewenangan tersebut.
Sebelumnya diberitakan, peristiwa penangkapan buaya tersebut viral di media sosial setelah dua video beredar pada Sabtu, 28 Februari 2026. Dalam video pertama, buaya terlihat berada di tepi pantai di samping batang pohon tumbang dengan kondisi kaki dan mulut terikat tali. Warga terdengar mempertanyakan apakah buaya tersebut sudah mati.
Video kedua berdurasi sekitar 34 detik memperlihatkan seorang pria berkaos biru muda mendekati buaya yang telah terikat tali tambang, disertai imbauan agar masyarakat berhati-hati saat beraktivitas di kawasan pantai.
Taufik menjelaskan, buaya itu awalnya terjerat jaring nelayan yang dipasang di tepi pantai pada Jumat pagi, 27 Februari 2026 sekitar pukul 09.00 WIB.
"Benar itu kena jaring nelayan di tepi pantai. Kejadiannya Jumat sekitar jam 9 pagi. Masih hidup, posisinya diikat dan diletakkan di bawah pohon cemara," bebernya.
Diduga buaya tersebut hendak memangsa ikan yang terperangkap di dalam jaring yang ditebar dari pinggir pantai. Namun justru predator itu yang akhirnya ikut tersangkut dan tertangkap.
Warga setempat menyebut buaya tersebut sebagai “buaya capit” karena memiliki moncong panjang dan kecil. Selama ini, kemunculan buaya di kawasan Pantai Ujung Pandaran disebut lebih sering memangsa ikan dan tidak pernah dilaporkan menyerang manusia.
"Kalau di pantai itu sering orang sebut buaya capit, sering makan ikan. Nelayan yang menangkap ikan itu sering bertemu tapi buaya tidak menyambar atau menyerang," ujarnya.
Meski demikian, Taufik tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah. Ia mengimbau baik warga lokal maupun pengunjung dari luar daerah untuk waspada. Bahkan anak-anak pun diingatkan agar berhati-hati saat berada di kawasan pantai.
"Walaupun selama ini hanya terlihat makan ikan, tetap harus waspada," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









