BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memperkirakan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global hingga Januari 2017 akan bertahan di level US$720 per ton hingga US$760 per ton, meningkat dibandingkan dengan awal tahun ini yang masih di bawah U$700 per ton.
"Harga CPO akan bergerak pada level US$720 hingga US$760 per ton, kondisi itu akan berlanjut hingga Januari 2017. Harga minyak mentah fosil dan produksi minyak sawit negara produsen berperan terhadap pergerakan harga CPO," kata Ketua Umum DMSI, Derom Bangun, kepada pers di Jakarta, Rabu (21/12/2016).
Tahun ini, menurut Derom, produksi minyak sawit di negara penghasil utama, Indonesia dan Malaysia, tidak seperti biasa. Meskipun ada kenaikan, tapi masih kurang dari tahun lalu.
"Pada September 2016 misalnya, produksi minyak sawit Indonesia seharusnya sekitar 11% dari setahun, tapi ternyata hanya 10,65% atau sekitar 3,25 juta ton. Dengan asumsi tersebut, produksi minyak sawit Indonesia dalam setahun ini bisa mencapai 30,5 juta ton," papar dia.
Sedangkan harga CPO di Bursa Rotterdam, lanjut Derom, diprediksi masih akan bertahan. Kalau harga pada bulan lalu menurut Kementerian Perdagangan di bawah US$750 per ton, namun sebenarnya masih dekat dengan US$750 per ton.
"Harga CPO di Rotterdam sudah naik di atas US$750 per ton. Kondisi ini akan berlangsung sampai Januari 2017," ujar Derom.
Derom menambahkan, harga minyak mentah akan berpengaruh terhadap pergerakan harga CPO. Jika harga minyak mentah naik, misalnya ke US$60 per barel, tentu harga CPO akan naik. Demikian juga sebaliknya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








