SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Sekolah Rakyat Terpadu 55 Kotawaringin Timur (Kotim) menargetkan kuota hingga 1.080 peserta didik pada tahun ajaran 2026-2027. Penambahan daya tampung ini menjadi bagian dari perluasan program pendidikan bagi keluarga kurang mampu di daerah tersebut. 

Kepala Sekolah, Nikkon Bhastari, menjelaskan saat ini sekolah tersebut telah menampung 100 siswa, masing-masing 50 murid tingkat SD dan 50 murid tingkat SMA. Seluruhnya telah ditetapkan melalui keputusan Bupati Kotim.

"Untuk tahun 2026, total kuota Sekolah Rakyat di Kotim mencapai 1.080 siswa. Rinciannya, 540 siswa untuk jenjang SD, 270 siswa SMP, dan 270 siswa SMA," ujar Nikkon, Selasa, 3 Maret 2026.

Ia menerangkan, proses seleksi calon peserta didik tidak dilakukan langsung oleh pihak sekolah. Penjaringan dilakukan melalui kolaborasi dengan tim Program Keluarga Harapan (PKH) serta kementerian terkait.

"Tim PKH dan tim dari kementerian yang melakukan penilaian. Kami hanya melaksanakan tugas. Kalau ada masyarakat yang datang, kami tampung dulu data seperti kartu keluarga dan nomor telepon, nanti akan ditinjau," tambahnya.

Setiap calon siswa akan diverifikasi melalui sistem Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) serta data pada dinas sosial. Apabila dinyatakan memenuhi persyaratan, siswa tersebut akan masuk dalam sistem penerima manfaat.

Sekolah Rakyat memprioritaskan anak-anak dari keluarga miskin kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan data kesejahteraan sosial. Meski demikian, masyarakat yang merasa memenuhi kriteria tetap dapat mengajukan berkas untuk diverifikasi lebih lanjut.

Minat masyarakat terhadap program ini disebut cukup tinggi. Untuk jenjang SMP, jumlah pendaftar bahkan telah melampaui dua rombongan belajar meskipun masih dalam tahap pendataan. Sementara di tingkat SD, sekolah optimistis dapat membuka hingga enam rombongan belajar.

"Kalau melihat data desil yang ada, kemungkinan target sekitar 1.000 peserta didik bisa tercapai. Tapi tetap harus diverifikasi, karena ada ketentuan seperti penghasilan orang tua yang menjadi salah satu indikator kelayakan," katanya.

Nikkon menegaskan, kehadiran Sekolah Rakyat bertujuan memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memperoleh akses pendidikan yang layak. Dalam praktiknya, tim verifikasi juga menemukan sejumlah kasus khusus, seperti anak yatim atau anak angkat yang secara administratif belum sesuai dengan kondisi riil di lapangan sehingga membutuhkan peninjauan tambahan.

Diketahui, Sekolah Rakyat Terpadu 55 Kotim mulai beroperasi sejak 30 September 2025 dan sementara menempati gedung di Islamic Center Sampit sambil menunggu pembangunan sekolah di Kompleks Wengga Metropolitan.

Pada tahap awal 2025, sekolah ini hanya menampung 100 siswa jenjang SD dan SMA. Di tahun kedua, kuota dibuka semakin luas dengan 3 jenjang pendidikan sekaligus. (DEWI PATMALASARI/y)