PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Lonjakan harga crude palm oil atau CPO akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ternyata tidak sepenuhnya membawa kabar baik bagi pelaku sektor perkebunan, khususnya petani sawit di daerah.

Pengamat Ekonomi dan Perkebunan Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengungkapkan bahwa kenaikan harga global justru berpotensi menekan harga tandan buah segar atau TBS di tingkat petani apabila ekspor melambat.

Ia menjelaskan, negara importir utama seperti India cenderung menahan pembelian saat harga CPO melonjak tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan penumpukan stok di dalam negeri dan berdampak pada penurunan harga di tingkat petani.

“Ketika permintaan melemah karena harga tinggi, sementara produksi tetap, maka stok akan menumpuk. Ini yang kemudian menekan harga TBS di lapangan,” kata Rawing kepada Borneonews pada Rabu, 1 April 2026.

Selain itu, gangguan logistik global akibat konflik juga berimbas pada meningkatnya biaya pengiriman dan asuransi. Jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz menjadi salah satu titik rawan yang memicu kenaikan biaya logistik.

Tak hanya itu, Dosen Ilmu Pertanian di Universitas Kristen Palangka Raya atau UKPR ini juga menyoroti kenaikan harga pupuk yang turut membebani petani. Sejumlah negara produsen pupuk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Kanada sangat bergantung pada jalur distribusi yang terdampak konflik.

“Kenaikan biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual di tingkat petani. Ini yang membuat margin mereka semakin tertekan,” katanya.

Ia menilai kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi petani sawit, di mana harga global naik namun tidak diikuti peningkatan kesejahteraan di tingkat bawah.

“Situasi ini harus menjadi perhatian pemerintah agar ada kebijakan penyeimbang,” pungkasnya.(TESTI PRISCILLA/H)