SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Koperasi UKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menargetkan Swalayan UMKM Sampit segera memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di bawah pengelola baru.

"Harapan kita dalam tiga bulan ke depan sudah ada retribusi yang masuk," kata Plt Kepala DKUPP Kotim, Muslih, Kamis, 16 April 2026.

Pergantian pengelola Swalayan UMKM yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso Sampit dilakukan setelah pengelola sebelumnya mengundurkan diri sebelum masa kontraknya berakhir. Sebagai pengganti, Rahmad Noor resmi ditunjuk dan telah menerima surat keputusan (SK) pada 8 April 2026.

Muslih berharap pengelola baru dapat bergerak cepat melakukan pembenahan, sehingga swalayan tersebut kembali aktif dan mampu menarik minat masyarakat untuk berkunjung.

"Kami berharap pengelola baru bisa segera berinovasi dan menghidupkan kembali Swalayan UMKM Sampit agar lebih ramai pengunjung," ujarnya.

Menurutnya, konsep pengelolaan ke depan diarahkan menyerupai ritel modern, namun tetap mengedepankan produk-produk lokal khas Kotim, mulai dari makanan, minuman hingga kerajinan tangan.

Sebagai aset milik pemerintah daerah, Swalayan UMKM Sampit juga ditargetkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap PAD. Pasalnya, sejak diresmikan pada Februari 2025, swalayan tersebut belum memberikan pemasukan berupa retribusi daerah.

"Sebelumnya pengelola lama diberi waktu dua tahun, namun baru berjalan sekitar satu tahun sudah mengundurkan diri. Untuk pengelola baru, kita beri waktu tiga bulan, setelah itu baru dikenakan retribusi," tambahnya.

Meski demikian, besaran retribusi yang akan dikenakan masih belum ditetapkan. DKUPP Kotim akan terlebih dahulu melihat perkembangan dan kinerja pengelola baru dalam beberapa bulan ke depan.

Keberadaan Swalayan UMKM Sampit diharapkan menjadi pusat pemasaran dan promosi produk lokal, sekaligus memperluas akses pasar bagi pelaku UMKM. Langkah ini dinilai penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta meningkatkan daya saing produk lokal. (DEWI PATMALASARI/H)