PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Komitmen memperkuat tata kelola industri sawit berkelanjutan terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Asesor ISPO Hilir yang melibatkan Kementerian Perindustrian, Badan Standardisasi Nasional (BSN), serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomiaan.

Sebanyak 38 peserta dari berbagai instansi tersebut mengikuti pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas calon asesor sebelum bergabung dengan Komite Akreditasi Nasional (KAN). Para peserta dipersiapkan untuk melakukan penilaian terhadap lembaga sertifikasi, khususnya dalam skema Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) hilir.

Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik, peserta melakukan kunjungan lapangan selama satu hari ke fasilitas operasional milik PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), yakni pabrik kelapa sawit (Sulung Mill), serta ke fasilitas refinery PT Citra Borneo Utama Tbk (CBUT).

Dalam kunjungan tersebut, peserta mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai rantai produksi sawit. Di unit Sulung Mill, mereka melakukan verifikasi langsung proses produksi crude palm oil (CPO), mulai dari penerimaan tandan buah segar hingga menjadi produk CPO. Kegiatan kemudian dilanjutkan ke pabrik minyak goreng PT Citra Borneo Utama untuk melihat proses hilirisasi, yang disambut oleh jajaran manajemen, termasuk Chief Executive Officer PT CBUT dan Ronny Hertantyo Raharjo ( Chief Financial Officer).

Pelatihan ini turut menghadirkan narasumber berpengalaman, di antaranya Krisna Septiningrum selaku Direktur Industri Kimia Hulu, serta Awan Taufani dari Komite Akreditasi Nasional yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Kerja SDM dan Harmonisasi Akreditasi di BSN.

Angga Sanggraha selaku Manager QHSE Sys. dan Certification menyampaikan bahwa keterlibatan perusahaan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung implementasi standar keberlanjutan di sektor sawit.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin berbagi praktik terbaik yang kami terapkan di lapangan sekaligus mendukung peningkatan kompetensi para asesor ISPO hilir. Kami percaya, penguatan sistem sertifikasi akan mendorong industri sawit Indonesia menjadi lebih transparan, berkelanjutan, dan berdaya saing,” ujar Angga dalam rilis SSMS pada Sabtu, 25 April 2026.

SSMS menegaskan bahwa perusahaan secara konsisten mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam seluruh proses operasionalnya, termasuk kepatuhan terhadap standar ISPO. Upaya ini mencakup pengelolaan produksi yang bertanggung jawab, efisiensi proses, serta perhatian terhadap aspek lingkungan dan sosial.

Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem sertifikasi ISPO, khususnya di sektor hilir yang memiliki peran penting dalam rantai nilai industri sawit. Dengan adanya asesor yang kompeten dan memahami proses industri secara menyeluruh, implementasi standar ISPO diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan kredibel.

Kolaborasi antara pemerintah, lembaga standardisasi, dan pelaku industri seperti PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) diharapkan terus diperkuat agar implementasi standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) hilir semakin konsisten di seluruh rantai industri. Ke depan, sinergi ini menjadi kunci untuk memastikan industri sawit Indonesia tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga mampu menjawab tuntutan pasar global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan.(TESTI PRISCILLA/H)