BORNEONEWS, Tamiang Layang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 di Kabupaten Barito Timur akan berlangsung lebih kering dibanding kondisi normal. Kondisi tersebut diperkirakan mulai terjadi pada awal Juni 2026 dengan puncak kemarau berlangsung pada Agustus mendatang.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sanggu, Eko Bambang Minarto mengatakan awal musim kemarau di Barito Timur diprakirakan dimulai pada Juni Dasarian I atau sekitar 1 hingga 10 Juni 2026. Sementara durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung selama 10 hingga 12 dasarian atau sekitar tiga sampai empat bulan.
“Musim kemarau 2026 di wilayah Barito Timur diprediksi dimulai pada Juni Dasarian I dengan sifat hujan bawah normal. Artinya, curah hujan selama musim kemarau nanti diperkirakan lebih sedikit dibanding kondisi normal,” kata Eko, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurutnya, prakiraan tersebut dipengaruhi dinamika iklim global yang saat ini mulai mengalami perubahan. BMKG mencatat fenomena La Nina lemah yang sebelumnya memengaruhi pola cuaca di Indonesia telah berakhir pada Februari 2026.
Saat ini kondisi ENSO berada pada fase netral. Namun, BMKG memperkirakan terdapat peluang sekitar 50 hingga 60 persen terjadinya El Nino lemah hingga moderat mulai pertengahan tahun 2026. Kondisi itu berpotensi mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan Tengah dan Barito Timur.
Selain memprediksi awal musim kemarau, BMKG juga memperkirakan akhir musim kemarau di Barito Timur terjadi sekitar September hingga Oktober 2026. Adapun puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus 2026 saat cuaca panas dan minim hujan cenderung meningkat.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau. Potensi yang perlu diantisipasi antara lain gangguan sektor pertanian, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan.
“Kami mengharapkan informasi prakiraan musim kemarau ini dapat menjadi peringatan dini bagi seluruh pemangku kepentingan agar dapat melakukan langkah antisipasi lebih awal, baik di sektor pangan, pengelolaan air, maupun kesiapsiagaan terhadap karhutla,” ujar Eko.
BMKG juga merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam dan penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Selain itu, pemerintah daerah diminta memastikan cadangan air bersih tetap tersedia serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi penurunan kualitas udara selama puncak musim kemarau berlangsung. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)









