BORNEONEWS, Palangka Raya - Di balik besarnya kontribusi sektor kelapa sawit terhadap perekonomian nasional dan daerah, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama. Mulai dari isu lingkungan, produktivitas kebun rakyat, hingga hambatan hilirisasi menjadi faktor yang memengaruhi daya saing industri sawit ke depan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Dr Ir Rawing Rambang MP saat menyampaikan materi “Penguatan Industri Kelapa Sawit dan Hilirisasi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi dan Pembiayaan Berkelanjutan” dalam kegiatan PINISI (Percepatan Intermediasi Indonesia) di Kantor Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah.
Menurut Rawing, isu keberlanjutan atau sustainability masih menjadi tantangan utama yang dihadapi industri sawit Indonesia. Industri ini kerap dikaitkan dengan berbagai persoalan lingkungan, seperti deforestasi, kebakaran lahan dan kabut asap, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga emisi gas rumah kaca.
“Karena itu, penguatan tata kelola perkebunan yang berkelanjutan menjadi sangat penting agar industri sawit tetap diterima di pasar global,” ujar Rawing kepada Borneonews pada Sabtu, 30 Mei 2026.
Selain persoalan lingkungan, konflik lahan dan sosial juga masih menjadi hambatan dalam pengembangan perkebunan. Sengketa lahan dengan masyarakat adat, persoalan legalitas kebun rakyat, hingga konflik antara perusahaan dan masyarakat sekitar dapat mengganggu iklim investasi serta operasional perkebunan.
Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini juga menyoroti masih rendahnya produktivitas sebagian kebun rakyat. Kondisi tanaman yang sudah tua, penggunaan bibit yang kurang unggul, keterbatasan teknologi budidaya, serta minimnya akses pelatihan dan pendampingan menjadi faktor yang memengaruhi hasil produksi petani.
Di sisi lain, fluktuasi harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar dunia turut menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Perubahan harga global berdampak pada pendapatan petani dan perusahaan, meningkatkan risiko investasi, serta menyulitkan perencanaan usaha jangka panjang.
"Pengembangan hilirisasi sawit juga masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan teknologi, infrastruktur industri yang belum merata, biaya logistik yang tinggi, hingga ketergantungan pada ekspor bahan mentah," tutur Dosan Ilmu Pertanian, Universitas Kristen Palangka Raya ini lagi.
Karena itu, diperlukan dukungan pembiayaan yang lebih luas serta penguatan ekosistem usaha agar industri sawit dapat tumbuh lebih berkelanjutan dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian daerah maupun nasional. (TESTI PRISCILLA/H)









