BORNEONEWS, Palangka Raya – Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengingatkan bahwa perubahan iklim global, dinamika penggunaan lahan, pertumbuhan penduduk, serta perkembangan wilayah perkotaan telah meningkatkan kompleksitas risiko bencana yang dihadapi daerah.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka Kick-Off Meeting Penyusunan Kajian Risiko Bencana (KRB) dan Pengukuran Indeks Ketahanan Daerah (IKD) Kota Palangka Raya Tahun 2026, Kamis (11/6/2026).
Menurut Zaini, perkembangan pembangunan dan pertumbuhan jumlah penduduk harus diimbangi dengan perencanaan yang matang agar tidak menambah tingkat kerentanan terhadap berbagai ancaman bencana.
"Perubahan iklim global, dinamika penggunaan lahan, pertumbuhan penduduk, dan perkembangan wilayah perkotaan semakin meningkatkan kompleksitas risiko yang harus kita hadapi," ujarnya, Kamis 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, Kota Palangka Raya saat ini menghadapi berbagai potensi ancaman seperti banjir, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, serta kebakaran permukiman yang memerlukan penanganan secara komprehensif dan berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penyusunan Kajian Risiko Bencana sebagai dasar ilmiah dalam mengidentifikasi tingkat ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko yang ada sehingga dapat menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan pembangunan.
Menurut Zaini, penanggulangan bencana tidak cukup hanya dilakukan saat terjadi keadaan darurat, tetapi harus diintegrasikan ke dalam setiap proses perencanaan pembangunan agar masyarakat dan daerah memiliki ketahanan yang lebih kuat.
"Penyusunan Kajian Risiko Bencana dan pengukuran Indeks Ketahanan Daerah, Pemko Palangka Raya berharap pembangunan yang dilaksanakan ke depan semakin memperhatikan aspek keselamatan masyarakat dan pengurangan risiko bencana," harapnya. (MARINI/H)









