PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Tim penyidik Polres Katingan terus memperdalam kasus penyerangan brutal yang menewaskan tiga personel kepolisian di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, pada Kamis 2 Juli 2026 lalu.

Hingga saat ini, aparat telah berhasil mengamankan lima terduga pelaku yang diduga terlibat langsung dalam aksi kekerasan tersebut.

Kapolres Katingan, AKBP Dodik Hartono, mengonfirmasi identitas pelaku yang telah diamankan, yakni Saldy atau S, Robi atau R, serta Yadi. Dua tersangka lainnya turut diamankan dan diduga memiliki peran masing-masing.

Kelima orang ini terbukti menggunakan senjata berupa senapan angin, senjata tajam, serta melakukan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia.

“Untuk penggunaan senpi dilakukan oleh Saldy, sedangkan Yadi menggunakan sajam dan membacok almarhum Yudhi. Tiga lainnya itu melakukan penganiayaan menyebabkan korban meninggal dunia,” tegas Dodik Hartono, Kamis, 9 Juli 2026.

Ia menambahkan, penyidikan masih berlangsung terus-menerus dan pihaknya masih menunggu hasil lengkap dari pemeriksaan Laboratorium Forensik untuk memperkuat bukti perkara.

Sementara itu, beredar rekaman video berdurasi 1 menit 43 detik yang memperlihatkan penangkapan salah satu tersangka bernama Yadi pada Rabu 8 Juli 2026.

Dalam rekaman tersebut, Yadi bersama dua rekannya terlihat diam dan tidak berdaya saat diborgol aparat gabungan dari Polda Kalteng dan Polres Katingan.

Dalam interogasi yang terekam tersebut, Yadi mengungkapkan nama-nama lain yang diduga terlibat dan masih diburu. Ia menyebutkan Ateng dan Nimu sebagai pelaku yang menembak, serta Robi, Tia alias Dion, Busu atau Ramblan, dan Bio yang terlibat dalam kejadian di lokasi.

“Ateng yang menggunakan senapan angin. Untuk Nimu menggunakan senjata api kaliber laras pendek,” ungkap Yadi dalam pengakuannya.

Peristiwa berdarah ini bermula saat personel Satresnarkoba Polres Katingan melakukan operasi penindakan terhadap terduga bandar sabu. Aksi tersebut berujung ricuh setelah petugas mendapat perlawanan sengit.

Akibat insiden tersebut, Aiptu Yudhi Perdana Putra gugur di lokasi, sementara Bripda Nopandri Ramadhana dan Ipda Sumariyanto ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Katingan setelah sebelumnya hilang. (PATHUR/Y)