BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Pemerintah Kabupaten Kapuas melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kini berada dalam status siaga penuh guna mengantisipasi ancaman bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah cepat ini diambil menyusul masuknya wilayah Kalimantan Tengah ke dalam fase fenomena iklim El Nino ekstrem dan gelombang kemarau panjang yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.
Wakil Bupati Kapuas, Dodo, sebelumnya telah menyampaikan bahwa kesiapsiagaan ini krusial mengingat karakteristik wilayah Kabupaten Kapuas yang didominasi oleh hutan luas serta hamparan lahan gambut. Karakteristik lahan gambut yang unik ini menjadi perhatian utama lantaran memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi dan dapat memicu kebakaran bawah tanah (ground fire) yang sangat sulit untuk dipadamkan apabila kekeringan mulai melanda secara masif.
Hingga pertengahan Juli ini, BPBD Kabupaten Kapuas mengonfirmasi bahwa kondisi makro di seluruh wilayah hukum Kapuas sebenarnya masih terpantau aman, terkendali, dan kondusif. Kendati demikian, otoritas penanggulangan bencana menegaskan bahwa ketenangan saat ini tidak boleh membuat seluruh elemen satuan tugas (satgas) maupun masyarakat menjadi lengah atau menurunkan standar pengawasan mereka di lapangan.
"Kewaspadaan harus terus ditingkatkan secara berlipat ganda. Wilayah Kapuas saat ini sudah sepenuhnya memasuki fase El Nino dan kemarau panjang, yang berarti potensi sekecil apa pun dapat berubah menjadi bencana besar jika tidak dimitigasi sejak dini," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan dalam laporan resminya, Selasa, 14 Juli 2026.
Berdasarkan data pantauan satelit terbaru, tim satgas gabungan sempat mendeteksi munculnya empat titik panas (hotspot) yang tersebar di beberapa area strategis. Beruntung, berkat koordinasi yang terjalin solid serta respons cepat tim pemadam di lapangan, keempat titik hotspot tersebut berhasil ditanggulangi sepenuhnya sebelum sempat meluas dan melahap area vegetasi di sekitarnya.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, pemerintah daerah meminta seluruh jajaran camat, kepala desa, dan tokoh masyarakat untuk saling bahu-membahu dalam mengedukasi warga. Masyarakat diimbau secara tegas untuk mempersiapkan sarana penampungan air secara mandiri serta dilarang keras melakukan aktivitas pembersihan lahan dengan cara membakar, demi menghindari ancaman karhutla yang dapat merugikan kesehatan dan perekonomian daerah. (SABRIANOOR/y)









