BORNEONEWS, Nanga Bulik – Cuaca kering yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir mulai memengaruhi produksi pertanian di Kabupaten Lamandau. Dampaknya terasa di Pasar Subuh Nanga Bulik, di mana sejumlah komoditas sayuran lokal mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari petani.
Salah seorang pedagang sayur Rima mengatakan, hasil panen petani menurun karena kesulitan memperoleh air untuk menyiram tanaman. Ia menyebut kondisi tersebut menyebabkan pasokan sayuran ke pasar semakin sedikit sehingga harga jual ikut terkerek.
"Banyak petani mengeluh sumurnya kering. Mereka harus membeli air untuk menyiram tanaman. Akibatnya hasil panen berkurang dan barang yang masuk ke pasar juga sedikit," ujar Rima.
Menurutnya, kenaikan paling mencolok terjadi pada daun bawang yang kini dijual Rp110 ribu per kilogram, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp65 ribu. Selain itu, harga kacang panjang naik dari Rp10 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram, timun dari Rp13 ribu menjadi Rp18 ribu, terong dari Rp20 ribu menjadi Rp25 ribu, cabai dari Rp60 ribu menjadi Rp75 ribu, buncis dari Rp25 ribu menjadi Rp30 ribu, serta pare dari Rp10 ribu menjadi Rp18 ribu per kilogram. Kangkung yang sebelumnya dijual tiga ikat Rp10 ribu kini menjadi Rp5 ribu per ikat dengan stok yang terbatas.
Di tengah kenaikan harga sayuran lokal, Rima menjelaskan beberapa komoditas yang didatangkan dari Pulau Jawa justru mengalami penurunan harga. Kol kini dijual Rp13 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp15 ribu, sawi putih turun menjadi Rp15 ribu dari Rp18 ribu, dan kentang menjadi Rp20 ribu dari Rp23 ribu per kilogram. Sementara itu, bawang putih mulai mengalami kenaikan sekitar Rp5 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut turut dirasakan masyarakat. Seorang pembeli, Yuni, mengaku kini harus menyesuaikan jumlah belanja agar pengeluaran rumah tangga tidak membengkak.
"Belanja sayur sekarang lebih mahal. Tetap harus beli karena kebutuhan sehari-hari, tetapi porsinya saya kurangi supaya pengeluaran tidak terlalu besar," katanya.
Pedagang berharap ada dukungan pemerintah untuk membantu petani mengatasi dampak musim kemarau, terutama dalam penyediaan sumber air bagi lahan pertanian. Dengan produksi yang kembali normal, mereka berharap pasokan sayuran meningkat sehingga harga di pasaran kembali stabil. (NATALIA KRISTIN/H)









