BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) membutuhkan sekitar 40 ribu liter air setiap hari untuk menjaga tanaman di sepanjang jalan Kota Sampit pada musim kemarau.
"Selama musim kemarau kami melakukan penyiraman menggunakan sekitar delapan tangki air setiap hari. Penyiraman dilakukan dua kali, pagi lima tangki dan sore tiga tangki," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala UPTD Jalan, Jembatan dan Drainase Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Suhardiono, Rabu, 29 Juli 2026.
Penyiraman difokuskan pada taman yang berada di median jalan protokol, seperti Jalan Ahmad Yani, Jalan Tjilik Riwut, Jalan Jenderal Sudirman, dan Jalan HM Arsyad.
Setiap mobil tangki mengangkut sekitar 5.000 liter air. Dengan delapan kali pengisian setiap hari, kebutuhan air untuk penyiraman mencapai sekitar 40 ribu liter.
Menurut Suhardiono, kebutuhan air tersebut meningkat signifikan akibat suhu udara yang lebih tinggi selama musim kemarau.
"Dalam kondisi normal kami hanya menggunakan empat hingga lima tangki per hari. Sekarang delapan tangki pun terasa belum cukup karena tanaman cepat kering," ujarnya.
Sementara itu, perlakuan khusus diterapkan pada taman baru di Bundaran Titik Nol Kilometer Sampit. Untuk menjaga tanaman yang baru ditanam tetap tumbuh optimal, pemerintah membangun sumur bor permanen sebagai sumber air.
"Tanaman di bundaran masih baru sehingga membutuhkan pasokan air yang lebih banyak. Karena itu kami membuat sumur bor permanen," tambahnya.
Ia mengatakan, sumur bor tersebut menjadi solusi jangka panjang untuk menghadapi musim kemarau. Saat musim hujan, fasilitas itu tidak akan dimanfaatkan secara maksimal, namun dapat kembali digunakan ketika musim kering datang.
"Kalau musim hujan tentu tidak terlalu diperlukan. Tetapi saat kemarau tahun depan, sumur bor ini bisa langsung dimanfaatkan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









