PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Antrean kendaraan baik roda 2 maulun 4 untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di sejumlah SPBU di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih belum selesai.

Kondisi tersebut membuat masyarakat kembali mempertanyakan penyebab panjangnya antrean yang hingga kini belum juga teratasi, meskipun persoalan distribusi BBM sebelumnya telah dibahas oleh Pemerintah Kabupaten Kobar bersama DPRD Kobar.

Adi, warga Pangkalan Bun, Sabtu, 8 Agustus 2026 mengatakan antrean panjang masih menjadi pemandangan di sejumlah SPBU. Menurutnya, persoalan tersebut sudah berulang kali dibahas, tetapi solusi konkret yang benar-benar menyelesaikan masalah belum terlihat.

"Masalah ini sudah dibahas di Pemda dan DPRD Kobar, tetapi sampai sekarang antrean masih panjang. Solusi untuk mengatasi masalah ini juga belum didapatkan," ujar Adi.

Menurut Adi, kondisi tersebut semakin membingungkan karena pihak Pertamina selama ini menyampaikan bahwa ketersediaan atau kuota BBM mencukupi.

"Pertamina selalu mengatakan BBM cukup, tetapi kenyataannya antrean masih panjang. Ini yang menjadi pertanyaan masyarakat," unar Adi.

Adi menduga salah satu penyebab antrean panjang adalah aktivitas pelangsir yang memanfaatkan situasi untuk mendapatkan BBM dalam jumlah besar dan kemudian menjualnya kembali.

"Sebagai warga, saya berasumsi banyak pelangsir yang memanfaatkan momen ini, sehingga masalahnya tidak kunjung selesai," tuturnya.

Padahal, lanjutnya, sejumlah langkah pengawasan juga telah dilakukan. Beberapa kali personel kepolisian dan Dinas Perhubungan disebut berjaga serta melakukan pemantauan di SPBU.

"Beberapa kali personel polisi dan Dishub berjaga dan memantau SPBU, tetapi masalahnya juga masih belum selesai," ujarnya.

Ia juga menyoroti sulitnya mendapatkan Pertalite di tingkat pengecer. Menurut Adi, BBM jenis tersebut hampir tidak ditemukan untuk dijual secara eceran di dalam kota.

"Pertalite di eceran dalam kota juga tidak ada. Entah menguap ke mana BBM jenis itu," keluhnya.

Tak hanya Pertalite, Adi menyebut Pertamax juga tidak luput dari dugaan aktivitas pelangsir. Kondisi tersebut dinilai turut memperpanjang antrean kendaraan di SPBU.

"Pertamax juga tidak luput dari banyaknya pelangsir sehingga membuat panjangnya antrean di SPBU," katanya.

Menurutnya, harga Pertamax di tingkat pengecer yang cukup tinggi menjadi salah satu indikasi adanya peluang keuntungan dari penjualan kembali BBM tersebut.

"Harga BBM Pertamax di tingkat eceran tergolong sangat tinggi, sekitar Rp20 ribu per botol, sementara harga di SPBU sekitar Rp16.300," ujar Adi.

Adi berharap pemerintah dan aparat tidak hanya melakukan pengawasan sesaat, tetapi mencari akar persoalan dan memastikan distribusi BBM benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Ia juga menilai persoalan antrean BBM sudah menjadi keluhan hampir setiap hari di media sosial. Namun, menurutnya, berbagai keluhan tersebut sejauh ini lebih banyak berakhir sebagai bahan diskusi dan perdebatan antarwarganet.

"Rasanya masalah ini hampir setiap hari dikeluhkan masyarakat di media sosial, tetapi hanya menjadi bahan diskusi dan perdebatan saja antar-netizen. Sementara di lapangan, antrean tetap terjadi," pungkasnya. (WAHYU KRIDA/y)