BORNEONEWS, Sampit – Petugas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bekerja hingga 18 jam per hari. Kondisi tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim mulai mengkhawatirkan ketahanan fisik personel karena penanganan karhutla diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
"Kesulitan kita, endurance petugas memang kalau mereka bekerja sudah overtime sebenarnya, lebih dari 12 jam rata-rata. Ada yang 16, ada yang 18 jam per hari. Bahkan besok mereka harus masuk kembali," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian karena penanganan karhutla masih panjang. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ancaman karhutla masih berpotensi terjadi dalam lima bulan ke depan.
Karena itu, BPBD Kotim mulai mengatur ritme kerja personel agar tenaga petugas tetap terjaga. Penanganan karhutla tidak harus membuat seluruh titik api langsung tuntas, tetapi yang terpenting api aktif dapat segera dikendalikan agar tidak meluas.
"Kita harus perhitungkan karena perjalanannya masih panjang. Kita baru 1/6, bahkan bulan Juli baru kita lewati. Sampai lima bulan ke depan lagi kita masih, kalau BMKG sampaikan tadi ancaman masih terjadi," ujarnya.
Multazam mengatakan salah satu indikator keberhasilan penanganan karhutla adalah kemampuan petugas memutus api aktif dengan cepat. Hal ini menjadi semakin penting karena sejumlah titik api kini berada dekat dengan permukiman warga.
"Rata-rata fire aktif sekarang itu sudah mendekati kompleks-kompleks perumahan dan berada di sebelah-sebelah perumahan. Sekarang seperti di Pandawa itu dekat sekali," katanya.
BPBD Kotim juga memastikan layanan call center tetap dibuka selama 24 jam untuk menerima laporan masyarakat. Namun, Multazam mengakui kelelahan personel dapat memengaruhi kemampuan petugas dalam merespons seluruh laporan secara maksimal.
"Call center kita terbuka 24 jam. Tapi kadang-kadang mohon maaf, namanya petugas kadang-kadang tertidur, terlelap, kelelahan dan segala macam. Kami sebelumnya minta maaf kalau semua tidak bisa kami layani maksimal," ungkapnya.
Saat ini, sekitar 150 personel terlibat dalam penanganan karhutla di lapangan. BPBD juga menyiapkan dukungan relawan seperti dari Palang Merah Indonesia (PMI), untuk membantu pengendalian karhutla selama masa tanggap darurat.
Multazam mengatakan keterlibatan relawan diperlukan untuk membantu menjaga ritme kerja petugas utama. Terlebih, sebagian relawan juga memiliki pekerjaan lain yang tidak boleh terganggu.
"Kita tidak ingin mereka terganggu. Mudah-mudahan itu bisa berkolaborasi dengan kita sepanjang situasi tanggap darurat ini untuk bisa pengendalian situasi," ujarnya.
Meski secara fisik sebagian besar personel masih terlihat kuat, Multazam memperkirakan kelelahan dapat mulai berdampak dalam beberapa hari ke depan.
"Secara fisik merasa kuat semua masih, tapi saya yakin dalam hitungan tujuh hari ke depan pasti ada yang tumbang karena sudah banyak yang izin," katanya.
Ia menyebut sejumlah personel sudah mulai meminta izin tidak bertugas. Namun, sebagian besar bukan karena sakit, melainkan kelelahan setelah bekerja dalam durasi panjang.
"Izin, Bapak tidak bisa hadir karena kelelahan. Izin, Bapak tidak bisa masuk karena sakit ada. Tapi lebih banyak kepada kelelahan," jelasnya.
Untuk menjaga kondisi personel, BPBD memastikan kebutuhan asupan makanan dan minuman tetap diperhatikan. Bantuan dari masyarakat dan relawan juga dinilai sangat membantu, terutama berupa minuman bernutrisi.
"Kita tentunya asupannya tetap terjamin. Bahkan kami terima kasih juga banyak relawan yang bisa memberikan bantuan minuman-minuman yang bergizi," katanya.
Ia menyebut bantuan seperti susu dan makanan tambahan menjadi dukungan berarti bagi petugas, meski jumlahnya masih terbatas.
Di tengah keterbatasan tenaga dan panjangnya periode penanganan karhutla, BPBD Kotim juga mengajak masyarakat ikut menjaga lingkungan. Multazam mengingatkan adanya dugaan perilaku sengaja membakar lahan dalam skala kecil yang kemudian berpotensi berkembang menjadi kebakaran besar.
Ia meminta masyarakat tidak menjadikan kedatangan petugas pemadam sebagai tontonan. Pembakaran sekecil apa pun dapat berkembang dan meningkatkan beban petugas yang saat ini sudah bekerja dalam kondisi kelelahan.
"Tapi ada hal-hal tertentu juga kami berharap saling menjaga lingkungan. Karena disinyalir ada perilaku-perilaku yang sengaja membakar, kemudian senang kalau damkar datang. Ada bunyi sirine, ada bunyi hirup-pikuk dan panik, itu kemudian apakah itu bisa terjadi kan? Karena dia ingin melihat unit pemadam datang. sengaja dibakar dalam satuan kecil, tapi dia lupa kebakaran kecil kemudian menjadi membesar," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









