BORNEONEWS, Palangka Raya – Penggunaan QRIS di sektor kuliner Kalimantan Tengah (Kalteng) dinilai memiliki peluang lebih besar daripada sekadar mempermudah pembayaran. Digitalisasi transaksi dapat menjadi bagian dari strategi pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing dan mengikuti perubahan pola konsumsi masyarakat.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, ungkapkan kehadiran pembayaran digital memberikan kemudahan bagi konsumen yang semakin terbiasa bertransaksi tanpa uang tunai. Kondisi ini sekaligus menjadi peluang bagi pelaku usaha kuliner untuk memberikan pelayanan yang lebih cepat, praktis, dan mengikuti perkembangan teknologi.Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam pelaksanaan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia (QJI) 2026.
"Namun, penggunaan QRIS tidak boleh dipandang sebagai tujuan akhir. Pelaku UMKM perlu mengimbanginya dengan peningkatan kualitas makanan, kebersihan, pelayanan, kemasan, serta promosi agar digitalisasi benar-benar memberikan dampak terhadap perkembangan usaha," katanya, Selasa 11 Agustus 2026.
Digitalisasi pembayaran juga katanya dapat membantu menciptakan transaksi usaha yang lebih tertata. Catatan transaksi secara digital dapat menjadi bagian dari upaya pelaku UMKM memahami pola penjualan dan mengelola keuangan usaha secara lebih baik.
Di sisi lain, kemudahan pembayaran dapat menjadi nilai tambah ketika produk kuliner lokal Kalteng menyasar konsumen dari luar daerah. Wisatawan maupun masyarakat yang tidak membawa uang tunai tetap dapat melakukan transaksi dengan mudah selama merchant menyediakan QRIS.
"Potensi tersebut perlu dimanfaatkan pelaku usaha untuk memperluas pasar. Kuliner khas Kalimantan Tengah tidak cukup hanya mengandalkan pelanggan di sekitar lokasi usaha, tetapi perlu didorong agar semakin dikenal melalui pemasaran digital dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen modern," tambahnya.
Meski demikian, transformasi digital juga ujarnya harus dibarengi pemahaman mengenai keamanan transaksi. Pelaku usaha dan konsumen perlu memastikan pembayaran dilakukan melalui kanal yang benar serta memahami langkah yang harus dilakukan apabila terjadi kendala atau dugaan penipuan.
Karena itu, penguatan literasi digital menjadi pekerjaan penting. Jangan sampai pelaku UMKM hanya memiliki QRIS, tetapi belum mampu memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan usahanya.
Ke depan, keberhasilan digitalisasi sektor kuliner seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya merchant yang menggunakan QRIS. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi tersebut mampu membantu UMKM meningkatkan penjualan, memperluas pelanggan, meningkatkan efisiensi, dan membuat kuliner lokal semakin kompetitif.
"QRIS bukan sekadar alat pembayaran. Jika dimanfaatkan secara tepat dan dibarengi peningkatan kualitas usaha, QRIS dapat menjadi bagian dari strategi memperkuat daya saing kuliner lokal Kalimantan Tengah di tengah ekonomi yang semakin digital," tutupnya. (MARINI/Y)









