BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) akan mendirikan tiga posko di sejumlah wilayah yang dinilai rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Kepala Pelaksana BPBD Kobar, Samuel, mengatakan pendirian posko tersebut merupakan tindak lanjut arahan Bupati Kobar melalui Sekretaris Daerah (Sekda) untuk memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan personel di lapangan.
Tiga posko tersebut akan mencakup wilayah ruas jalan Kumpai Batu Atas, Kumpai Batu Bawah, Tanjung Terantang, Tanjung Putri, Sungai Sebuai, Sungai Tendang hingga Sungai Kapitan.
Posko tersebut nantinya menjadi tempat bagi personel Masyarakat Peduli Api (MPA) dan tim gabungan untuk beristirahat sekaligus melakukan koordinasi dalam penanganan Karhutla.
"Menindaklanjuti arahan Bupati melalui Pak Sekda, kita akan buat posko untuk personel istirahat," ujar Samuel, Kamis, 13 Agustus 2026.
Menurutnya, keberadaan posko tidak hanya difungsikan sebagai tempat personel berjaga dan beristirahat. Posko juga akan memudahkan penyaluran logistik serta mempercepat koordinasi apabila terjadi kebakaran di wilayah sekitar.
"Jadi per 12 jam lapor. Kemudian laporannya, kami sampaikan kepada Bupati, Wakil, Kapolres, Dandim, Danlanud, sehingga apa yang terjadi dan upaya yang kita lakukan termonitor pimpinan," jelasnya.
Pendirian posko menjadi bagian dari kesiapsiagaan Pemkab Kobar setelah daerah tersebut menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Karhutla. Berbagai persiapan terus dilakukan untuk mendukung petugas yang berada di lapangan.
Selain posko, BPBD Kobar juga menyiapkan dukungan logistik bagi personel. Salah satunya melalui pendirian dapur umum yang bekerja sama dengan Dinas Sosial Kobar.
Dengan adanya dapur umum tersebut, kebutuhan makanan bagi petugas di lapangan diharapkan dapat terpenuhi secara rutin sehingga personel dapat fokus melakukan pemadaman dan pengawasan.
Samuel mengatakan langkah tersebut penting mengingat sejumlah wilayah masih memiliki potensi munculnya kembali titik api. Salah satunya di wilayah Sungai Tendang, Kecamatan Kumai, yang sebelumnya terbakar cukup luas.
"Di wilayah Sungai Tendang, Kecamatan Kumai, seluas 60 hektare wilayah gambut telah terbakar. Meski saat ini telah padam, kami khawatir akan muncul titik api kembali, mengingat saat ini masih memasuki kemarau ekstrem," ungkapnya.
BPBD Kobar juga mengingatkan seluruh personel untuk mengutamakan keselamatan selama menjalankan tugas. Terutama ketika kondisi api tidak memungkinkan untuk dilakukan pemadaman hingga malam hari.
"Kami pun telah meminta kepada seluruh personel penanganan untuk mengutamakan keselamatan. Jika sudah pukul 18.00 WIB api belum bisa dipadamkan, agar menarik diri," tegas Samuel.
Meski jumlah personel dinilai mencukupi, tantangan utama dalam penanganan Karhutla saat ini adalah luasnya jangkauan lokasi kebakaran dan keterbatasan sumber air.
Karena itu, Samuel meminta pengawasan tetap dilakukan secara ketat, terutama di sekitar lokasi yang berdekatan dengan permukiman. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengancam keselamatan masyarakat.
"Yang terutama pengawasan ketat agar penyebaran api tidak ke wilayah permukiman. Untuk personel kami cukup, akan tetapi kesulitannya jangkauan dan sumber air," pungkasnya. (DANANG/y)









