BORNEONEWS, Pangkalan Bun- Kasus Diare Akut di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), jumlah kasus hingga minggu ke-30 tahun 2026 mencapai 183 kasus.
Angka tersebut mengalami kenaikan 59,1 persen dibandingkan minggu ke-29 yang mencatat 115 kasus. Jika dibandingkan dengan kondisi pada minggu ke-26, kasus Diare Akut bahkan meningkat 165,2 persen dari sebelumnya 69 kasus.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar. Kewaspadaan diperkuat untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang dapat berdampak terhadap ketersediaan maupun kualitas air bersih.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, mengatakan perkembangan kasus yang terpantau melalui SKDR menjadi dasar bagi jajaran kesehatan untuk meningkatkan pemantauan di lapangan.
“Peningkatan kasus pada minggu ke-30 perlu menjadi perhatian bersama. Pada musim kemarau, kewaspadaan terhadap kebersihan air, makanan, dan lingkungan harus semakin ditingkatkan,” ujar dr. Jhonferi, Selasa, 11 Agustus 2026.
Ia menekankan pentingnya memastikan air yang digunakan untuk konsumsi maupun kebutuhan sehari-hari berada dalam kondisi aman dan bersih. Selain itu, kebersihan makanan serta lingkungan juga harus menjadi perhatian masyarakat.
Dinkes Kobar mengingatkan masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), antara lain dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga kebersihan makanan dan minuman, serta memastikan penggunaan air bersih.
Masyarakat juga diminta segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami diare, terlebih ketika muncul tanda-tanda dehidrasi seperti tubuh lemas, rasa haus berlebihan, mata cekung, maupun berkurangnya frekuensi buang air kecil.
“Pencegahan harus dimulai dari rumah. Menjaga kebersihan tangan, makanan, air, dan lingkungan merupakan langkah sederhana yang sangat penting untuk mencegah diare, terutama saat kondisi kemarau,” katanya.
Sementara itu, Dinkes Kobar bersama puskesmas terus melakukan pemantauan perkembangan kasus dan memperkuat surveilans. Upaya tersebut dilakukan untuk mengetahui perubahan tren sedini mungkin sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan.
Dengan meningkatnya kasus tersebut, masyarakat diimbau tidak mengabaikan aspek kebersihan dan keamanan air selama musim kemarau. Kewaspadaan bersama dinilai penting untuk menekan risiko penyebaran penyakit serta mencegah peningkatan kasus lebih lanjut. (NURITA/y)









