SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat 3.546 kasus diare sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Kasus diare tercatat berfluktuasi setiap bulan dengan jumlah tertinggi terjadi pada Juli sebanyak 690 kasus.

Berdasarkan data Dinkes Kotim, kasus diare pada Januari tercatat 440 kasus. Jumlah tersebut naik menjadi 507 kasus pada Februari, kemudian turun menjadi 372 kasus pada Maret dan 393 kasus pada April.

Kasus kembali menurun pada Mei dengan 302 kasus dan Juni sebanyak 306 kasus. Selanjutnya, jumlah kasus melonjak menjadi 690 kasus pada Juli sebelum kembali turun menjadi 536 kasus pada Agustus.

Kepala Dinkes Kotim Umar Kaderi mengatakan, kondisi kekeringan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir juga turut menjadi perhatian karena berdampak terhadap ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

"Diare itu penyebabnya karena masalah air bersih. Kita sedang karhutla dan kekeringan, ini tentunya kesulitan air bersih pada daerah-daerah tertentu," kata Umar, Kamis, 10 September 2026.

Keterbatasan air bersih membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kualitas air yang digunakan sehari-hari, terutama air untuk konsumsi. Kondisi air yang tidak memenuhi standar kebersihan dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan.

Dinkes Kotim melalui puskesmas terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memastikan air yang digunakan untuk minum benar-benar aman.

Masyarakat juga diminta merebus air sebelum dikonsumsi. Imbauan tersebut berlaku termasuk bagi warga yang menggunakan air isi ulang sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kontaminasi bakteri seperti e-coli.

"Kami, kawan-kawan di puskesmas juga terus memberikan penyuluhan, edukasi kepada masyarakat, agar air minum harus yang direbus. Termasuk kalau menggunakan air isi ulang pun, setidaknya kita rebus," ujarnya.

Umar menyampaikan, kasus diare yang ditangani fasilitas kesehatan saat ini masih tergolong ringan. Penanganan dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) yang tersedia di Kotim. Hingga saat ini, Dinkes belum menemukan kasus diare yang menyebabkan kematian.

"Namun, diarenya masih diare ringan, sehingga semuanya masih bisa kita tangani di faskes kita. Insyaallah tidak ada kasus diare yang menyebabkan kematian," tambahnya.

Lanjutnya, masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak. Penggunaan air diutamakan untuk kebutuhan pokok seperti minum, mandi dan kebutuhan rumah tangga.

Dinkes Kotim juga memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat karhutla dan kekeringan. Seluruh fasilitas kesehatan di 17 kecamatan telah diarahkan untuk membuka pelayanan selama 24 jam.

Pelayanan tersebut diterapkan dengan sistem shift agar masyarakat tetap mendapatkan akses layanan kesehatan ketika membutuhkan pertolongan.

"Kita selama karhutla ini sudah instruksikan kepada semua faskes kita buka 24 jam, dengan tenaganya sistem shift, ketersediaan obat-obatan juga sudah mencukupi, kemudian masker juga itu sudah tercukupi," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)