BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dampak kabut asap akibat karhutla yang terjadi belakangan ini, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) menunjukkan peningkatan cukup nyata dalam beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kobar hingga Minggu Epidemiologi ke-32 tahun 2026, peningkatan kasus mulai terlihat sejak minggu ke-28 dan terus berlanjut hingga minggu ke-32.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kobar, dr. Jhonferi Sidabalok, Kamis, 27 Agustus 2026 mengatakan tren kasus ISPA di wilayah Kobar masih bersifat fluktuatif, namun peningkatan dalam beberapa pekan terakhir perlu menjadi perhatian.
"Tren kasus ISPA menunjukkan pola yang fluktuatif dengan peningkatan yang cukup nyata pada minggu ke-28 sampai minggu ke-32," jelas Jhonferi Sidabalok.
Jhonferi Sidabalok menyebutkan, jumlah kasus mingguan tertinggi tercatat pada minggu ke-32 dengan sekitar 515 kasus.
"Kasus tertinggi tercatat pada minggu ke-32, sekitar 515 kasus. Kondisi ini perlu diwaspadai karena terjadi peningkatan kasus secara berturut-turut dalam beberapa minggu terakhir," jelas Jhonferi Sidabalok.
Secara distribusi, jumlah kasus ISPA juga tidak merata di setiap fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
Kasus terbanyak tercatat di PKM Sungai Rangit sebanyak 1.933 kasus atau 16,43 persen. Selanjutnya PKM Madurejo sebanyak 1.169 kasus atau 9,94 persen, PKM Kumai 1.152 kasus atau 9,79 persen, PKM Karang Mulya 914 kasus atau 7,77 persen, dan PKM Mendawai 905 kasus atau 7,69 persen.
Menurut Jhonferi Sidabalok, pemantauan mingguan perlu terus ditingkatkan untuk mengetahui perkembangan kasus sekaligus mendeteksi kemungkinan peningkatan yang tidak normal secara lebih dini.
"Pemantauan mingguan, analisis distribusi kasus menurut wilayah dan kelompok umur, serta pemantauan kasus pneumonia dan faktor lingkungan perlu ditingkatkan," jelas Jhonferi Sidabalok.
Dinkes Kobar juga meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangan kasus ISPA pada minggu-minggu berikutnya.
"Bila peningkatan terus berlanjut, perlu dilakukan verifikasi lapangan dan analisis epidemiologi lebih lanjut," jelas Jhonferi Sidabalok. (WAHYU KRIDA/y)









