PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pengelolaan hutan dan peningkatan ekonomi masyarakat dinilai tidak harus ditempatkan sebagai dua kepentingan yang berlawanan.

Direktur Sustainability Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS, Henky Satrio Wibowo, mengatakan Hutan Kemasyarakatan Danau Masoraian di Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat, menunjukkan bagaimana perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan penghidupan masyarakat.

Kawasan sekitar 3.006 hektare itu dikelola KTH Komunitas Karya Masoraian yang melibatkan 213 anggota.

Menurut Henky, Danau Masoraian tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui sumber daya perikanan.

Sejumlah jenis ikan seperti lais, toman, haruan, kerandang, betutu dan baung dimanfaatkan kelompok perikanan. Sebagian hasil tangkapan dijual dan sebagian lainnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yang lebih penting adalah mencari bentuk ekonomi yang tidak menghancurkan fondasi ekologisnya sendiri,” ujar Henky kepada Borneonews pada Kamis, 3 September 2026.

Ia menilai pendekatan seperti ini penting karena masyarakat membutuhkan penghasilan. Upaya konservasi tidak akan berjalan optimal apabila kebutuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan diabaikan.

Karena itu, pemberdayaan masyarakat perlu menjadi bagian dari agenda pengelolaan kawasan. Masyarakat membutuhkan keterampilan, kesempatan usaha, akses pasar dan sumber pendapatan yang dapat berjalan tanpa mengorbankan sumber daya alam.

Henky mengatakan, cara mengukur keberhasilan pengelolaan kawasan juga perlu diperluas.

Keberhasilan tidak cukup dilihat dari berapa hektare hutan yang masih hijau, tetapi juga dari berapa banyak masyarakat yang terlibat, pekerjaan yang tercipta, peningkatan pendapatan, keberlanjutan sumber pangan hingga terjaganya keanekaragaman hayati.

“Kalau jawabannya ya, maka kita tidak sekadar berhasil menjaga hutan. Kita berhasil menjaga kehidupan,” katanya. (TESTI PRISCILLA/H)