SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kemunculan individu bekantan di tepi jalan kawasan Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menarik perhatian warga. Individu bekantan tersebut terlihat sendirian di pohon sekitar tepi jalan.

Kemunculan bekantan itu dibagikan Rini Al Rasyid melalui postingan foto dan video. Ia menyebut baru kali pertama melihat bekantan dari jarak dekat tanpa kelompoknya berada di sekitar lokasi.

Menurut Rini, individu bekantan tersebut ditemuinya pada Minggu, 13 September 2026 sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, ia sempat berhenti dan memberikan makanan sebelum melanjutkan perjalanan.

Saat kembali melintas sekitar pukul 14.00 WIB, Rini mengaku prihatin karena melihat sejumlah titik kebakaran lahan di sepanjang jalan di sekitar lokasi kemunculan bekantan.

Menanggapi kemunculan tersebut, Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan pihaknya belum menerima laporan terkait keberadaan bekantan tersebut.

Ia menjelaskan, kawasan Ujung Pandaran memang merupakan habitat bekantan dan lutung abu-abu. Namun, berdasarkan foto dan video yang beredar, individu bekantan tersebut diduga berada di kawasan tepi jalan raya.

"Memang, di daerah Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit ada habitat bekantan dan Lutung abu-abu. Kalau melihat foto dan video, sepertinya ini di wilayah tepi jalan raya," kata Muriansyah, Senin, 14 September 2026.

Muriansyah mengimbau masyarakat tidak perlu panik jika melihat bekantan. Satwa tersebut pada dasarnya tidak akan menyerang manusia selama tidak diganggu.

"Sebenarnya, bekantan tidak berbahaya dan tidak menyerang," ujarnya.

Foto dan video yang beredar sempat disebut diambil di sekitar penginapan Pantai Ujung Pandaran. Namun, Muriansyah mengatakan pihaknya belum pernah menerima laporan kemunculan bekantan di sekitar kawasan penginapan tersebut.

Menurutnya, lokasi yang sebelumnya pernah dilaporkan menjadi tempat kemunculan bekantan berada di sisi jalan sebelum memasuki kawasan Ujung Pandaran. Area tersebut memiliki vegetasi mangrove dan nipah yang menjadi habitat satwa.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mencoba menangkap ataupun melukai bekantan yang ditemukan.

"Jangan berusaha untuk menangkap atau melukai bekantan. Bekantan tidak pernah dilaporkan menyerang manusia, selama dia tidak di ganggu dan ditangkap," tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penangkapan secara manual. Bekantan memiliki taring yang dapat menyebabkan luka serius apabila merasa terancam.

"Dan sangat berbahaya menangkap bekantan dengan cara manual. Taring yang dimilikinya, bisa membuat luka serius pada manusia," jelas Muriansyah.

Dari pengamatan terhadap foto dan video yang beredar, Muriansyah memperkirakan individu bekantan tersebut berjenis kelamin jantan.

Menurutnya, bekantan merupakan satwa yang umumnya hidup secara berkelompok. Kemunculan individu jantan seorang diri dapat terjadi karena berbagai kondisi, salah satunya persaingan dalam kelompok.

Ia menduga bekantan tersebut bisa saja merupakan pejantan yang kalah bersaing dengan pejantan lain sehingga terpisah atau terusir dari kelompoknya.

"Bisa saja bekantan tersebut merupakan pejantan yang kalah bersaing dari pejantan lainnya dan akhirnya terusir dari kelompoknya," pungkas Muriansyah. (DEWI PATMALASARI/y)