PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pendekatan konservasi hutan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan larangan dan pembatasan aktivitas masyarakat.

Direktur Sustainability Sawit Sumbermas Sarana (SSMS), Henky Satrio Wibowo, mengatakan masyarakat di sekitar kawasan hutan justru dapat menjadi bagian penting dari sistem perlindungan.

Menurutnya, masyarakat memiliki hubungan langsung dengan kawasan karena hutan menjadi sumber air, pangan, penghasilan dan ruang hidup.

“Ketika masyarakat diberi ruang untuk mengelola, ruang tersebut harus disertai tanggung jawab, aturan, kapasitas dan pengawasan,” kata Henky kepada Borneonews pada Kamis, 17 September 2026.

Ia mencontohkan pengelolaan Hutan Kemasyarakatan Danau Masoraian di Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat.

Kawasan sekitar 3.006 hektare tersebut dikelola KTH Komunitas Karya Masoraian dengan melibatkan 213 anggota.

Pengelolaan dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari patroli dan penjagaan, pemeliharaan lingkungan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, restorasi area gambut terbuka hingga pemantauan keanekaragaman hayati.

Di sisi lain, masyarakat tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari kawasan melalui kegiatan perikanan serta pekerjaan pengelolaan kawasan.

Henky mengatakan pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat tidak harus saling bertentangan.

“Keberlanjutan adalah tentang membuat manusia memiliki alasan untuk menyelamatkan hutannya,” ujarnya. (TESTI PRISCILLA/H)