BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Gunung Mas (DPKP Gumas), Kalimantan Tengah (Kalteng), menyebut pembudi daya ikan di daerah setempat harus memanen ikan peliharaanya lebih cepat imbas kemarau.
"Kemarau panjang yang melanda sejak Juli 2026 membuat debit air kolam menyusut drastis, terutama pada kolam tanah dan kolam terpal yang mengandalkan sistem tadah hujan. Akibatnya, sejumlah kelompok pembudi daya ikan terpaksa panen dini," kata Kepala DPKP Kabupaten Gumas Eigh Manto saat dihubungi awak media dari Kuala Kurun, Senin.
Dia mengatakan kondisi kritis tersebut menimpa sedikitnya lima kelompok pembudi daya ikan komoditas patin, nila, dan gurami di Kecamatan Tewah, akibat debit air kolam yang terus menyusut sejak awal musim kemarau.
Ketersediaan debit air kolam yang menyusut drastis dari hari ke hari membuat para pembudi daya di Kecamatan Tewah tidak memiliki pilihan lain selain melakukan panen dini, demi menyelamatkan ikan yang masih tersisa.
Sementara itu, di wilayah ibu kota Gumas yakni Kuala Kurun, di mana para pembudi daya ikan mencoba berbagai cara untuk mempertahankan kualitas ikan budi daya di tengah kondisi debit air yang terus menyusut.
Beberapa pembudi daya sempat memanfaatkan layanan air PDAM untuk menambah pasokan air kolam, namun cara tersebut dinilai kurang efektif dan berisiko tinggi lantaran kandungan bahan kimia pada air bersih tersebut tidak ramah bagi ekosistem ikan.
Akibatnya, penambahan air PDAM ke kolam hanya bisa dilakukan dalam volume yang sangat terbatas, sehingga sejumlah pembudi daya di Kuala Kurun beralih menggunakan mesin pompa air untuk menyedot sisa-sisa air tanah atau sungai terdekat.
"Siasat menggunakan pompa air ini diakui cukup membantu, tetapi hanya efektif untuk skala kecil, yakni mencukupi kebutuhan satu atau dua kolam berukuran kecil saja," kata Eigh Manto.
Namun, bagi pembudi daya yang memiliki kolam dalam jumlah banyak dan area yang luas, metode pompa air tersebut sama sekali tidak mampu mengejar laju penyusutan air akibat kemarau panjang.
Kondisi serupa juga dialami para pembudi daya ikan di Desa Karya Bhakti, Kecamatan Rungan, yang mengalami kesulitan air dalam mendukung kegiatan usaha budi daya ikan di tengah musim kemarau panjang ini.
"Kami berharap musim hujan segera tiba agar debit air kolam kembali normal, sehingga para pembudi daya ikan di Gumas dapat kembali menjalankan kegiatan budi daya secara optimal," kata Eigh Manto.
ANTARA









