SAMPIT –

‎BORNEONEWS, Sampit - Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-57 tingkat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Tahun 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi ajang perlombaan untuk mencari peserta terbaik.
‎
‎Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kotim, Nur Widiantoro, menegaskan MTQ harus menjadi instrumen untuk mengukur sejauh mana pembelajaran, pembinaan, hingga pengamalan nilai-nilai Al-Qur'an tumbuh di tengah masyarakat.
‎
‎Menurutnya, berbagai cabang MTQ seperti seni baca Al-Qur'an, qira'at, hafalan, tafsir, kaligrafi, syahril Qur'an, fahmil Qur'an hingga karya tulis ilmiah Al-Qur'an sudah menjadi bagian dari pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat Kotim.
‎
‎"MTQ hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai sebuah perlombaan untuk mencari juara. Lebih dari itu, MTQ harus kita jadikan sebagai salah satu instrumen untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran, pembinaan dan pengamalan Al-Qur'an telah tumbuh di tengah-tengah masyarakat," kata Nur pungkasnya, Sabtu, 3 Oktober 2026.
‎
‎Ia mengatakan, proses pembinaan generasi Qurani tidak terlepas dari keberadaan rumah tahfiz, Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), Taman Kanak-Kanak Al-Qur'an, Madrasah Diniyah maupun pondok pesantren.
‎
‎Lembaga-lembaga pendidikan keagamaan tersebut dinilai memiliki peran strategis dalam melahirkan qari dan qariah, hafiz dan hafizah, mufassir serta generasi yang memiliki pemahaman dan kecintaan terhadap Al-Qur'an.
‎
Ia menilai keberhasilan pembinaan Al-Qur'an di daerah juga dapat dilihat dari kemampuan melakukan regenerasi dan pengaderan secara berkelanjutan.
‎
‎"Apabila setiap pelaksanaan MTQ kita mampu menghadirkan peserta-peserta baru dengan kualitas yang semakin baik, maka hal tersebut menunjukkan bahwa proses pembinaan berjalan dengan baik," ujarnya.
‎
‎Sebaliknya, apabila setiap pelaksanaan MTQ masih mengalami kesulitan dalam mencari peserta, menurut dia, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama agar pembinaan Al-Qur'an di masyarakat terus ditingkatkan.
‎
‎Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kecintaan kepada Al-Qur'an tidak cukup hanya diwujudkan melalui kemampuan membaca dan menghafalnya. Nilai-nilai Al-Qur'an juga harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
‎
‎"Kita ingin Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi daerah yang masyarakatnya hidup rukun, damai, saling menghargai, saling menghormati dan menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak," katanya.
‎
‎Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat, lanjutnya, masyarakat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual dan akhlak yang mulia.
‎
‎Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang harmonis serta dalam menata pembangunan daerah.
‎
‎Ia juga berpesan kepada dewan hakim dan juri agar menjalankan tugas secara profesional, objektif, independen dan menjunjung tinggi prinsip keadilan.
‎
‎"Berikan penilaian berdasarkan kemampuan dan penampilan peserta sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan," tegasnya.
‎
‎Ia berharap proses penilaian dapat menghasilkan peserta-peserta terbaik yang nantinya menjadi duta Kotim pada MTQ dan Festival Seni Qasidah tingkat Provinsi Kalimantan Tengah.
‎
‎Kepada seluruh kafilah dari berbagai kecamatan, Nur Widiantoro mengajak peserta mengikuti MTQ dan Festival Seni Qasidah dengan niat yang tulus karena Allah SWT.
‎
‎"Jadikan keikutsertaan dalam MTQ ini bukan semata-mata untuk mengejar prestasi dan juara, tetapi juga sebagai bentuk kecintaan, penghormatan dan upaya kita untuk mengagungkan Al-Qur'an," tuturnya.
‎
‎Ia berharap MTQ ke-57 dan Festival Seni Qasidah tingkat Kabupaten Kotim Tahun 2026 berjalan lancar, aman dan sukses serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
‎
‎"Marilah kita bersama-sama menjadikan MTQ ini sebagai momentum untuk meningkatkan kecintaan kepada Al-Qur'an, memperkuat ukhuwah, mempererat silaturahmi dan membangun masyarakat Kotawaringin Timur yang semakin religius, harmonis dan berakhlak mulia," pungkasnya. (DEVI/H)