JAKARTA –

BORNEONEWS, Istanbul - Arab Saudi pada Senin (5/10) mengecam serangan Houthi yang menargetkan sejumlah fasilitas sipil dan situs suci di kerajaan tersebut dan menyatakan bahwa kelompok itu telah memilih eskalasi militer meskipun Riyadh telah berupaya mendukung solusi politik di Yaman.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam tindakan Houthi yang terus menargetkan warga serta fasilitas sipil dan ekonomi.

Saudi mengecam "serangan terbuka dan berulang" terhadap kota suci Mekah dan Madinah.

Pihaknya juga mengecam serangan terhadap Ibu Kota Riyadh dan Kota Abha, Khamis Mushait, Jazan, Najran, Taif, serta Yanbu, termasuk serangan terhadap kapal-kapal Saudi di bagian selatan Laut Merah dan Selat Bab El-Mandeb.

Menurut Kemlu Saudi, Houthi menargetkan Mekah dan Madinah menggunakan rudal dan pesawat nirawak (drone).

Namun hal itu telah dibantah oleh kelompok asal Yaman tersebut.

Serangan Houthi di lokasi lain di wilayah kerajaan, termasuk fasilitas produksi energi, telah menyebabkan jatuhnya korban luka di kalangan sipil serta menimbulkan kerusakan materi.

Saudi, jelasnya, memiliki "hak yang melekat" untuk mempertahankan wilayah, sumber daya, dan kedaulatan, serta mengambil segala Tindakan yang diperlukan demi melindungi warga negara dan penduduk.

Hak tersebut sesuai dengan hukum internasional, jelas pernyataan Kemlu.

Kementerian tersebut menyatakan bahwa sejak Houthi mengambil alih kekuasaan dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada 2014, Saudi telah melakukan upaya berkelanjutan untuk mendukung solusi politik yang komprehensif dan langgeng.

Namun, Saudi menuduh kelompok tersebut menolak perdamaian dan memilih "eskalasi militer yang berkelanjutan," sehingga menyeret Yaman dan rakyatnya ke dalam penderitaan kemanusiaan dan ekonomi yang lebih parah "demi melayani dan melaksanakan agenda pihak asing".

Pihaknya juga memperbarui "dukungan politik dan militer penuh" bagi Dewan Kepemimpinan Presiden, pemerintah, dan rakyat Yaman untuk mengakhiri penguasaan Houthi dan memulihkan institusi negara.

Kementerian tersebut mendesak masyarakat internasional untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan memberikan dukungan penuh kepada pemerintah Yaman dalam menghadapi Houthi, serta menghentikan ancaman yang ditimbulkan kelompok tersebut terhadap Yaman, kawasan, dan dunia.

Laporan kemajuan pasukan Yaman
Pernyataan tersebut diumumkan menyusul pernyataan Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad Al-Alimi pada Senin (5/10), mengenai dimulainya operasi bersama "Fajar Yaman" atau Dawn on Yemen, yang bertujuan untuk memulihkan institusi negara, merebut kembali Ibu Kota Sanaa, dan mengakhiri penguasaan kelompok Houthi.

Selanjutnya, militer Yaman mengumumkan keberhasilan mereka menguasai Bab El-Mandeb serta kota strategis Mokha, dengan terus merangsek di sepanjang pesisir barat. Hingga kini, belum ada tanggapan langsung dari pihak Houthi terkait hal tersebut.

Pada 20 Juli 2026, kelompok Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi sebagai tanggapan atas apa yang mereka klaim sebagai blokade laut dan udara oleh Saudi terhadap sejumlah wilayah di Yaman yang dikuasai Houthi.

Arab Saudi telah memimpin koalisi yang mendukung pemerintah Yaman, yang diakui secara internasional, dalam menghadapi Houthi sejak 2015.

Kelompok Houthi dituduh mendapat dukungan dari Iran serta telah menguasai Sanaa dan sejumlah provinsi sejak 2014.

ANTARA