BORNEONEWS, Sampit - Air Perumdam Tirta Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di lima kecamatan dinyatakan tidak layak dikonsumsi untuk minum dan memasak akibat intrusi air laut yang meningkatkan kadar garam pada air baku Sungai Mentaya.
"Sehubungan dengan kondisi musim kemarau menyebabkan terjadinya intrusi air laut dan peningkatan kadar salinitas, air baku Sungai Mentaya di Intake Tanah Mas (Kecamatan Baamang) mulai terasa payau," kata Kepala Bagian Teknik Perumdam Tirta Mentaya Kotim Edy Dyufriadi, Rabu, 14 Oktober 2026.
Kecamatan Baamang menjadi wilayah kelima di Kotim yang air PDAM-nya dinyatakan tidak layak dikonsumsi akibat intrusi air laut. Sebelumnya, kondisi serupa telah terjadi di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Seranau, dan Mentawa Baru Ketapang.
Pelanggan di lima kecamatan tersebut diimbau tidak menggunakan air PDAM untuk kebutuhan konsumsi. Air yang didistribusikan saat ini hanya diperuntukkan bagi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Kondisi air baku yang mulai payau juga berdampak terhadap operasional Perumdam Tirta Mentaya. Debit air baku mengalami penurunan sekitar 40-50 liter per detik sehingga memengaruhi produksi dan distribusi air kepada pelanggan di sejumlah zona pelayanan, terutama Baamang dan Ketapang.
Meski menghadapi kendala tersebut, Perumdam Tirta Mentaya tetap mengoperasikan layanan distribusi di wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan karena masyarakat masih membutuhkan pasokan air untuk keperluan sehari-hari, khususnya MCK.
"Di lima kecamatan yang airnya sudah payau, PDAM tetap beroperasi. Meski air payau jelas memengaruhi dari sisi teknis, tetapi kita tidak bisa juga mematikan distribusi karena ada kebutuhan masyarakat untuk MCK. Apa pun yang kita lakukan semua demi masyarakat," ujarnya.
Untuk menjaga pelayanan tetap berjalan, Perumdam melakukan pengaturan operasional pompa distribusi sesuai kondisi debit air baku. Penyesuaian tersebut dilakukan agar pasokan air dapat dibagi secara merata dan distribusi tetap berlangsung di wilayah terdampak.
Pelanggan juga diminta menampung air secukupnya selama distribusi mengalami penyesuaian. Namun, air yang diterima harus digunakan sesuai peruntukannya dan tidak untuk diminum maupun memasak.
Edy menjelaskan, kondisi air PDAM di sejumlah kecamatan lainnya masih relatif aman untuk dikonsumsi. Wilayah tersebut antara lain Kota Besi, Pundu, Cempaka Mulia, Parenggean, dan Kuayan.
Meski demikian, ancaman intrusi air laut berpotensi meluas apabila hujan tidak turun hingga akhir Oktober 2026. Kecamatan Kota Besi menjadi salah satu wilayah yang perlu diwaspadai jika kondisi kemarau terus berlanjut.
"Kalau hujan tidak turun sampai bulan Oktober berakhir kemungkinan Kecamatan Kota Besi juga bakal kena intrusi air laut," bebernya.
Saat ini, pengisian bantuan air bersih telah dialihkan dari Baamang ke Kota Besi karena kondisi sumber air di wilayah tersebut dinilai masih relatif aman. Meski sebagian masyarakat masih mengambil air dari Baamang, air tersebut disebut digunakan untuk kebutuhan MCK. (DEWI PATMALASARI/H)









