SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Keterbatasan sumber air menjadi kendala utama petugas dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terutama di kawasan terpencil seperti Desa Camba dan Desa Ganepo yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, jumlah personel dan ketersediaan peralatan pemadam saat ini relatif memadai. Namun, kondisi geografis serta minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran membuat upaya pemadaman tidak bisa dilakukan semudah di wilayah perkotaan.

"Untuk personel sebenarnya kita cukup. Personel itu cukup karena kita juga ada memang yang sudah ada 448 orang ini secara personel cukup sebenarnya. Hanya kesulitan kita itu tadi karena memang jangkauannya puluhan kilo masuk ke hutan dengan kondisi yang namanya di hutan, dan utamanya itu titik air," kata Halikinnor, Minggu, 18 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, petugas harus menempuh perjalanan puluhan kilometer untuk mencapai sejumlah titik kebakaran. Di beberapa lokasi, akses jalan belum tersedia, sementara sumber air sulit ditemukan untuk memenuhi kebutuhan pemadaman.

Pemerintah daerah sebenarnya telah membangun sejumlah sumur bor untuk membantu penanganan karhutla. Namun, debit air dari sumur tersebut belum mencukupi kebutuhan petugas di lapangan.

Air yang tersedia terkadang langsung habis setelah disedot sehingga petugas harus menunggu hingga sumber air kembali terisi. Bahkan, pada sejumlah jaringan irigasi, petugas harus menunggu air pasang agar bisa memperoleh pasokan air untuk memadamkan api.

"Jadi kendala utama kita adalah air. Makanya kita berharap ini mungkin penanganan yang jauh-jauh ini melalui water bombing itu mudah-mudahan dan hujan yang kita harapkan dan itu lebat segera memadamkan itu," ujarnya.

Halikinnor menyebut Desa Camba serta Desa Ganepo saat ini menjadi lokasi yang membutuhkan perhatian khusus karena titik api masih cukup besar.

Kondisi di kedua wilayah tersebut berbeda dengan perkotaan Sampit. Di perkotaan, kendaraan pemadam relatif mudah memperoleh pasokan air melalui dukungan organisasi perangkat daerah (OPD) yang dikerahkan untuk membantu pengisian tangki.

Sekitar 38 OPD dilibatkan dalam dukungan penanganan karhutla di wilayah perkotaan. Kendaraan pengangkut air dari OPD tersebut membantu menjaga ketersediaan air bagi armada pemadam.

Sementara itu, di kawasan Camba dan Ganepo, petugas menghadapi keterbatasan akses dan sumber air. Desa Ganepo yang berada di seberang Sungai Mentaya juga memiliki kendala berupa sulitnya medan menuju lokasi kebakaran.

"Untuk di daerah seperti di Camba, seperti di Ganepo itu kesulitan, apalagi Ganepo itu seberang Mentaya sana, jadi tidak ada jaringan jalan, tidak ada, ya itu yang kesulitan kita untuk pemadaman," jelasnya.

Untuk mengoptimalkan penanganan kebakaran, Pemerintah Kabupaten Kotim memperpanjang status tanggap darurat karhutla hingga 30 Oktober 2026. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan kondisi cuaca dan curah hujan yang masih rendah berdasarkan prakiraan BMKG.

Halikinnor mengatakan, tambahan personel juga telah diterima dari Brimob Nusa Tenggara Barat sebanyak 32 orang. Dengan tambahan tersebut, pemerintah menilai dukungan personel sudah mencukupi.

Peralatan pemadam yang tersedia juga dinilai cukup memadai dari bantuan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, serta pengadaan pemerintah daerah.

Meski demikian, efektivitas penanganan tetap bergantung pada kemampuan petugas menjangkau titik api dan memperoleh pasokan air yang cukup.

Halikinnor berharap dukungan pemadaman melalui water bombing serta hujan dengan intensitas tinggi dapat membantu mengatasi kebakaran yang masih terjadi, terutama di wilayah terpencil yang sulit dijangkau petugas darat. (DEWI PATMALASARI/H)