BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya memberikan potensi terkait pengembangan investasi produk perantara hasil turunan minyak sawit mentah (CPO).

"Ada rencana investasi pabrik surfactant senilai US$260 juta yang dihadirkan dari investor asal Jepang. Hadirnya investasi tersebut, menjadi penguatan penghiliran industri kelapa sawit," kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto, kepada pers di Jakarta, Kamis (19/1/2017).

Panggah menilai, kebutuhan surfactant digunakan untuk kosmetik, sabun dan lainnya dapat dipenuhi dari dalam negeri.

"Jika produk kimia ini dihasilkan dari produk alami akan mendukung kelestarian lingkungan. Semakin banyak penghiliran industri dari CPO, Indonesia akan mendapatkan nilai tambah lebih daripada hanya menjual produk mentah," papar dia.

Sektor agro merupakan penyumbang hampir separuh PDB industri pengolahan non migas. Pada tahun lalu pertumbuhan industri agro mencapai 7,5%.

"Pada 2019 nanti kami optimistis industri agro bisa tumbuh hingga 8%," ujar Panggah.

Secara umum produk yang diserap industri pengolahan berbasis agro ada 11, yakni kelapa sawit, lada, bubur kertas dan kertas, kakao, rumput laut kering, karet, rotan, ikan dan udang, kelapa, kopi dan teh. (NEDELYA RAMADHANI/m)