BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Banyak pengamat dan pakar yang percaya industri kelapa sawit akan cerah pada 2017 seiring dengan pulihnya produksi pasca serangan El Nino 2015 dan imbas kebijakan penggunaan biodiesel di sejumlah negara.

Terdapat tiga pakar sawit memberikan komentar dan prediksi mereka terhadap harga minyak sawit mentah (CPO) tahun ini, salah satunya adalah Mohamad Fadhil Hasan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Ia yakin CPO akan diperdagangkan di kisaran harga US$680/metrik ton (MT) hingga US$690/MT (RM3.026/MT hingga RM3.070/MT), dan proyeksi harga itu ditopang oleh kebijakan penggunaan biodiesel di Indonesia dan sejumlah negara lain.

Mohamad Fadhil, yang hadir dalam seminar bertajuk Palm Oil Economic Review & Outlook Seminar 2017, akhir pekan ini, juga memperkirakan Indonesia akan menggunakan CPO sekitar 9 juta MT hingga 10 juta MT tahun ini, termasuk untuk penggunaan program bio-diesel.

Pakar sawit lain yang hadir dalam acara tersebut adalah direktur Ganling Sdn Bhd, Ling Ah Hong. Seperti dikutip The Malaysian Reserve, Ling mengatakan CPO akan ditransaksikan di harga rata-rata RM2.600/MT dan memproyeksikan harga CPO akan menguat ke level RM3.400/MT dalam jangka pendek.

Menurut Ling, lonjakan harga CPO itu masih dipengaruhi oleh dampak dari El Nino, yang masih akan menyelimuti sejumlah area perkebunan sawit hingga kuartal pertama 2017. Namun, katanya, harga CPO akan melemah menjadi RM2.200/MT pada semester kedua tahun ini seiring dengan pulihnya produksi.

Sementara James Fry, seorang pakar sawit lainnya, memperkirakan harga CPO akan turun pada semester kedua 2017, tapi penurunan itu akan terbatas karena Indonesia banyak menyerap komoditas itu untuk program biodiesel. (NEDELYA RAMADHANI/m)