BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Harga minyak sawit mentah (CPO) akan terus menguat pada kuartal pertama tahun ini sebelum kemudian melemah menjadi $600 per ton pada 2018, kata analis industri sawit, Thomas Mielke.
Harga CPO telah diperdagangkan di level tertinggi dalam empat tahun karena ketatnya pasokan di pasar. Kondisi ini terjadi karena produksi masih terimbas dampak El Nino. Pada perdagangan Senin (23/1/2017) harga minyak sawit ditutup melemah 0,2 persen menjadi 3.096 ringgit ($697,70).
Di pasar Rotterdam, harga CPO bisa segera menembus level $840, sedangkan di pasar komoditas Indonesia, harga minyak sawit akan menyentuh $800 per ton, ujar Mielke dalam prediksi terbarunya, seperti dikutip Investing.
"Harga CPO diperkirakan akan turun mulai dari Maret atau April dan seterusnya. Pelemahan itu pada awalnya akan bersifat terbatas, tapi kemudian makin menjadi pada semester kedua 2017 dan makin cepat pada 2018," kata Mielke di sela acara Pakistan Edible Oils conference akhir pekan lalu.
"Harga CPO yang turun pada 2018 bisa tembus $600 atau kurang sedikit dari level itu," imbuhnya.
Mielke juga sedikit menurunkan proyeksinya atas produksi minyak sawit Malaysia pada 2017 menjadi 20 juta ton, dari estimasi sebelumnya 20,5 juta ton. Tapi untuk produksi Indonesia, Mielke mempertahankan estimasinya di angka 35 juta ton.
"Produksi minyak sawit dunia akan rebound sekitar 6,5 juta ton," demikian estimasi Mielke untuk tahun kalender berjalan. (NEDELYA RAMADHANI/m)








