BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di Indonesia orangutan merupakan jenis primata yang paling terancam punah, diakibatkan degradasi habitat dan aksi perburuan liar. Berdasarkan data dari Persatuan Konservasi Alam Internasional (IUCN), populasi orangutan Kalimantan terus berkurang sejak 1970-an, selanjutnya akan menurun menjadi sekitar 47.000 orangutan pada 2025. Saat ini masih tersisa sekitar 73 ribu orangutan.
"Ini akan mewakili penurunan lebih dari 86 persen dalam 75 tahun mendatang," terang penggiat lingkungan hidup di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Fembry Arianto kepada Borneonews, saat kampanye penyelamatan primata di arena car free day (CFD), Jalan Sutan Syahrir, Pangkalan Bun, Minggu (29/1/2017).
Salah satu habitat asli orangutan, Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) hanya menyisakan sekitar 6.000 orangutan. Dengan semakin menyusutnya wilayah TNTP, orangutan di tempat itu pun semakin berkurang.
"Orangutan Kalimantan kini dalam keadaan paling kritis dan membahayakan. Kondisinya diambang kepunahan," sebut pria yang juga bekerja di TNTP itu.
Ari yang juga aktivis Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Pangkalan Bun, menyebut, pengerusakan hutan hujan di Kalimantan akibat kebakaran dan pembalakan liar juga menjadi salah satu masalah bagi habitat asli orangutan. "Kegiatan ini menjadi ancaman lain bagi orangutan."
Dari hasil penelitian Greenpeace, sedikitnya 75 persen hutan hujan di Kalimantan hilang. Jika pengrusakan hutan tidak dihentikan, diperkirakan 20 tahun mendatang, hutan di Kalimantan akan benar-benar menghilang.
"Habitat asli orangutan adalah hutan, tanpa hutan yang sehat, mereka tidak akan bertahan hidup," ujar Ari.
Selain itu, perburuan merupakan faktor utama lain yang menjadi ancaman populasi orangutan. Diperkirakan 2.000 hingga 3.000 orangutan Kalimantan telah dibunuh setiap tahun dalam empat dekade terakhir.
"Jika tidak dihentikan, populasi orangutan akan terus menurun. Perlindungan habitat saja tidak menjamin kelangsungan hidup orangutan," ujarnya.
Orangutan berkembangbiak sangat lama, dan hal itu mendukung ancamanan kepunahan yang pasti. "Betina hanya berkembangbiak 7-8 tahun sekali, jika kehilangan seekor saja, akan menjadi bencana bagi keberadaan populasi tersebut," kata Ari.
Meskipun masa depan orangutan nampak begitu suram, namun kepunahan bukan menjadi hal yang begitu pasti saat ini. "Belum terlambat untuk menyelamatkan orangutan," tandasnya.(FAHRUDDIN FITRIYA/N).








